PT Phapros Tbk tengah menggodok sejumlah strategi proaktif guna mengantisipasi lonjakan harga bahan baku obat yang dipicu oleh fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah serta dinamika geopolitik global. Perusahaan farmasi ini mengakui bahwa tantangan tersebut bukan hanya membayangi industri farmasi, melainkan juga merambah hampir seluruh sektor industri di tanah air.
Ferdinand Troedu, Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Sumber Daya Manusia PT Phapros, memaparkan bahwa dampak kenaikan harga bahan baku obat sudah mulai terasa. Hal ini tak lepas dari ketergantungan Phapros yang mayoritas masih mengimpor bahan baku produksinya. Ia menjelaskan bahwa bahan baku impor tersebut terbagi dalam dua kategori, yaitu yang diimpor secara langsung maupun tidak langsung, dan kedua jenis pengadaan ini sama-sama mengalami kenaikan biaya.
"Untuk Phapros, kami melihat dampaknya sudah ada dan memang terjadi, di mana sebagian bahan baku kami mayoritas masih impor," ungkap Ferdinand dalam acara media gathering Phapros bertajuk "Merajut Harmoni, Menguatkan Kolaborasi" yang digelar pada Sabtu, 20 Juni 2026. Ia menambahkan, "Bahan baku impor terbagi dua kategori, yakni langsung maupun tidak langsung, dan keduanya sama-sama mengalami kenaikan harga."
Menghadapi situasi yang penuh tantangan ini, Phapros tidak tinggal diam. Perusahaan telah merancang berbagai jurus untuk meredam gejolak harga. Salah satu langkah konkret yang langsung diambil adalah melalui negosiasi ulang atau ‘reprofiling’ dengan para pemasok bahan baku. Renegosiasi ini dapat berwujud kesepakatan kontrak jangka panjang (long term contract) atau penambahan volume pesanan.
"Untuk mengatasi itu, kami menempuh berbagai cara, salah satunya yang langsung adalah renegosiasi atau reprofiling ‘supplier’ bahan baku," jelas Ferdinand. "Menurut dia, renegosiasi harga bisa ditempuh dengan skema kontrak ‘long term’ atau jangka panjang maupun dengan meningkatkan volume kontrak."
Selain bernegosiasi dengan pemasok yang sudah ada, Phapros juga aktif menjajaki sumber-sumber pemasok alternatif. Langkah ini diambil untuk menciptakan opsi tawar-menawar yang lebih luas dan menguntungkan. "Yang kedua adalah kami juga mencari alternatif sumber pemasok yang lain. Jadi, jangan kami mencari pilihan alternatif supaya ada tawar menawar," tegas Ferdinand.
Lebih lanjut, Phapros juga mengoptimalkan efisiensi dalam proses produksinya. Namun, efisiensi yang dimaksud bukan berarti melakukan pengurangan volume produksi. Sebaliknya, Phapros berfokus pada upaya menekan berbagai biaya operasional melalui proses produksi yang lebih ramping dan efektif. "Ketiga, kami melakukan efisiensi dalam hal produksi," ujar Ferdinand. "Namun, kata dia, efisiensi bukan berarti pengurangan produksi, tapi lebih kepada bagaimana bisa menekan biaya-biaya dengan proses produksi yang lebih efisien."
Upaya strategis Phapros ini sejalan dengan kondisi industri farmasi nasional yang memang tengah beradaptasi dengan berbagai tantangan ekonomi global. Penguatan dolar AS terhadap Rupiah secara signifikan memengaruhi biaya produksi, terutama bagi perusahaan yang bergantung pada impor bahan baku. Fluktuasi nilai tukar ini dapat mengerek harga pokok produksi, yang pada akhirnya berpotensi memengaruhi harga jual produk akhir kepada konsumen.
Di sisi lain, Ida Rahmi Kurniasih, Direktur Produksi PT Phapros, menyoroti peran kebijakan Kementerian Kesehatan dalam memberikan ruang bagi industri farmasi untuk bernapas di tengah badai situasi global ini. Dukungan kebijakan dari regulator dapat menjadi stimulus penting bagi perusahaan farmasi untuk terus berinovasi dan menjaga ketersediaan obat bagi masyarakat.
"Sementara itu, Direktur Produksi PT Phapros Ida Rahmi Kurniasih menambahkan bahwa kebijakan Kementerian Kesehatan juga turut memberi ruang bagi industri farmasi menghadapi dampak situasi global belakangan ini," ujar Ida. Kebijakan tersebut dapat mencakup insentif, kemudahan perizinan, atau dukungan dalam riset dan pengembangan bahan baku lokal.
Dalam konteks yang lebih luas, upaya Phapros ini mencerminkan ketahanan dan adaptabilitas industri farmasi Indonesia. Ketergantungan pada bahan baku impor memang menjadi kerentanan yang terus diupayakan untuk dikurangi. Diversifikasi pemasok, negosiasi yang lebih kuat, serta peningkatan efisiensi produksi menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga obat di dalam negeri.
Pemerintah sendiri melalui Kementerian Perindustrian dan Kementerian Kesehatan terus mendorong agar industri farmasi nasional dapat mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor. Inisiatif seperti pengembangan industri farmasi hulu, stimulan untuk riset dan pengembangan bahan baku obat dalam negeri, serta kemitraan dengan negara produsen bahan baku obat lainnya, diharapkan dapat memperkuat kemandirian industri farmasi Indonesia di masa depan.
Dengan berbagai strategi yang telah disiapkan, PT Phapros Tbk berupaya memastikan kelangsungan operasionalnya dan tetap berkomitmen untuk menyediakan produk farmasi berkualitas bagi masyarakat, meskipun dihadapkan pada tantangan ekonomi global yang dinamis. Langkah-langkah proaktif ini menunjukkan keseriusan perusahaan dalam menjaga stabilitas pasokan obat di tengah ketidakpastian pasar.











