Pesawat Kepresidenan Baru Donald Trump: Hadiah Mewah dari Qatar dengan Wajah Baru

Emanuel

Washington D.C. – Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini memamerkan pesawat kepresidenan Air Force One terbarunya yang kini telah dirombak total. Jet jumbo yang sebelumnya merupakan milik pemerintah Qatar ini kini menjelma menjadi simbol kebanggaan baru bagi Amerika Serikat di udara. Perubahan tidak hanya terbatas pada fungsi, tetapi juga pada estetika, dengan penanggalan corak biru telur asin era Kennedy yang ikonik.

Pesawat baru ini mengusung tampilan yang lebih garang dan modern. Bagian perutnya dicat dengan warna biru tua yang dominan, dipertegas dengan garis merah yang membentang di atasnya. Pada sisi kiri pesawat, tempat utama bagi presiden untuk naik, terpasang stempel resmi kepresidenan yang megah. Sementara itu, bagian ekor pesawat dihiasi dengan bendera Amerika Serikat berukuran sangat besar, menegaskan identitas dan kebangsaan.

"Pesawat ini diubah menjadi Gedung Putih terbang dengan tingkat kemewahan yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya," ujar Trump seperti dikutip dari AP News. Ia mengungkapkan rencana untuk membawa jet baru ini dalam perjalanan diplomatik penting, termasuk ke KTT NATO di Ankara, Turki, bulan depan, serta mengindikasikan kemungkinan kunjungan kembali ke Tiongkok. Perjalanan terakhir yang dijadwalkan menggunakan Air Force One lama adalah kepulangannya dari KTT G7 di Prancis minggu ini.

Trump menekankan keunggulan pesawat baru ini dalam representasi negara. "Sekarang, ketika kita mendarat di bandara-bandara di London, Jerman, dan tempat-tempat lainnya, tidak ada yang bisa menandingi pesawat ini, dan memang begitulah seharusnya negara kita," tegasnya. Ia menambahkan bahwa Air Force One baru ini dijadwalkan untuk melakukan terbang lintas selama perayaan Hari Kemerdekaan 4 Juli. Pesawat yang diterima sebagai hadiah dari Qatar ini berfungsi sebagai solusi sementara, sebuah "jembatan" pengangkut presiden hingga pesawat baru yang dipesan langsung dari Boeing tiba pada tahun 2028.

Penerimaan jet mewah Boeing 747 dari Qatar sebagai pesawat kepresidenan AS pada tahun lalu memang sempat menimbulkan berbagai pertanyaan. Isu-isu terkait etika dan legalitas dalam menerima hadiah bernilai fantastis dari pemerintah asing menjadi sorotan. Namun, Trump bersikeras bahwa ia tidak akan menggunakan jet Qatar tersebut untuk penerbangan pribadi setelah lengser dari jabatannya. Rencananya, pesawat ini akan disumbangkan ke perpustakaan kepresidenan di masa mendatang.

Situasi ini terjadi di tengah penantian Amerika Serikat untuk armada pesawat kepresidenan baru yang dipesan langsung dari Boeing. "Presiden yang normal tidak akan melakukan ini. Presiden yang normal ingin menjauh dari urusan pesawat. Tetapi negara kita harus diwakili dengan layak," ujar Trump, menggambarkan urgensi untuk memiliki representasi udara yang mumpuni. Angkatan Udara AS mengonfirmasi bahwa pesawat apa pun yang menyandang predikat Air Force One harus memenuhi persyaratan keamanan yang sangat ketat.

Pesawat Qatar tersebut telah dimodifikasi di bawah pendekatan teknik yang memprioritaskan kapabilitas inti keamanan. Menariknya, sebagian besar tata letak interior bekas kepala negara sebelumnya tetap dipertahankan. Angkatan Udara sebelumnya memperkirakan biaya modifikasi keamanan pada jet ini akan menelan biaya kurang dari 400 juta dolar Amerika Serikat.

Upaya Trump untuk merancang ulang pesawat kepresidenan ini sebenarnya telah dimulai sejak masa pemerintahan pertamanya. Ia menginstruksikan agar armada jet baru mengadopsi skema warna yang hampir identik dengan pesawat pribadi miliknya. Keputusan ini sempat dibatalkan oleh Presiden Joe Biden pada Maret 2023 setelah tinjauan Angkatan Udara menunjukkan bahwa skema warna yang lebih gelap berpotensi meningkatkan biaya dan menunda pengiriman jet baru. Namun, setelah Trump kembali menjabat ke Gedung Putih, ia mengembalikan skema warna pesawat sesuai dengan preferensinya.

Skema warna baru yang mencakup dominasi biru tua, merah, dan putih ini rencananya juga akan diterapkan pada pesawat pemerintah lainnya yang mengangkut pejabat tinggi administrasi. Hal ini menunjukkan konsistensi dalam upaya membangun citra dan identitas visual yang kuat bagi armada udara kepresidenan dan pemerintahan.

Juru bicara Angkatan Udara menjelaskan bahwa dua pesawat Air Force One saat ini, yang dikenal sebagai VC-25A, tidak akan dipensiunkan dalam waktu dekat. Kedua pesawat tersebut akan tetap berada dalam armada hingga pesawat Boeing baru, yang disebut VC-25B, resmi beroperasi. Belum ada kepastian mengenai penggunaan jet-jet lama tersebut setelahnya, namun juru bicara tersebut memastikan bahwa baik jet hadiah dari Qatar maupun VC-25A akan tetap tersedia untuk digunakan. Keputusan akhir mengenai pesawat mana yang akan dipilih untuk setiap misi akan didasarkan pada kebutuhan operasional oleh Grup Angkutan Udara Kepresidenan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All