Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung melontarkan pernyataan mengejutkan saat bertemu mantan presiden Moon Jae In.
Pertemuan bersejarah itu berlangsung di wisma Sangchunjae, Cheong Wa Dae, Seoul, Rabu (1/7/2026).
Dalam agenda makan siang tersebut, Lee menyebut kondisi negaranya saat ini sedang berada dalam fase kerusakan parah.
Ia berkomitmen penuh melakukan perbaikan mendasar di berbagai sektor krusial pemerintahan.
Lee menyoroti kehancuran di bidang diplomasi, keamanan nasional, serta hubungan antar-Korea.
Selain itu, sektor ekonomi dan budaya nasional juga dinilai telah mengalami kemunduran signifikan.
Presiden Lee menegaskan bahwa pemerintahan saat ini sedang berupaya keras memperbaiki kerusakan tersebut.
Ia merasa terpanggil untuk mengembalikan kondisi negara ke jalur yang seharusnya.
Dalam pertemuan itu, Lee juga membahas kebijakan perdamaian di Semenanjung Korea.
Ia berencana menghidupkan kembali diplomasi damai yang sempat digencarkan Moon Jae In.
Seperti diketahui, Moon tercatat pernah melakukan tiga kali pertemuan bersejarah dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.
Lee menyayangkan kebijakan damai tersebut sempat terhenti di era pemerintahan Yoon Suk Yeol.
Yoon dinilai lebih memilih sikap konfrontatif yang justru memperkeruh hubungan kedua negara bertetangga itu.
Selain isu keamanan, Lee memuji kebijakan energi terbarukan peninggalan Moon Jae In.
Kebijakan panel surya tersebut dinilai sukses menarik investasi besar bagi negara.
Total investasi yang masuk mencapai 800 triliun won atau sekitar 514 miliar dolar AS.
Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan pabrik chip semikonduktor di wilayah barat daya Korea Selatan.
Pertemuan ini terjadi di tengah dinamika internal blok liberal yang sedang memanas.
Faksi pro-Lee dilaporkan tengah berselisih dengan pendukung setia Moon Jae In.
Ketegangan politik ini berkaitan dengan perebutan kursi ketua Partai Demokrat Korea bulan Agustus mendatang.
Meski demikian, Lee tetap menekankan pentingnya konsistensi dalam kebijakan luar negeri.
Dalam acara Dewan Penasihat Unifikasi Damai, ia kembali menegaskan visinya.
Lee meyakini konsistensi adalah kunci untuk mengubah gencatan senjata menjadi perdamaian permanen.
Ia mengajak pemerintah untuk tidak lelah mengetuk pintu Korea Utara yang kini tertutup.
Menurutnya, pintu dialog akan terbuka jika upaya dilakukan secara terus-menerus dan sabar.
Langkah ini diharapkan menjadi titik balik stabilitas keamanan di kawasan Semenanjung Korea.











