Perayaan Janmashtami di Kolkata, yang sebelumnya dikenal sebagai ajang toleransi antarumat beragama, kini mengalami perubahan signifikan. Acara yang berlangsung pada 27 Agustus 2018 ini dilaporkan menjadi lebih eksklusif bagi umat Hindu, dengan partisipasi warga Muslim yang sebelumnya rutin, kini menghilang.
Perubahan ini memicu kekhawatiran dan diskusi mengenai makna toleransi dalam perayaan keagamaan di kota tersebut. Festival yang biasanya merayakan kelahiran Dewa Krishna ini, kini tidak lagi melibatkan komunitas Muslim dalam pelaksanaannya.
Sebelumnya, perayaan Janmashtami di Kolkata menjadi simbol keharmonisan, di mana warga dari berbagai latar belakang agama turut serta. Namun, pada perayaan tahun 2018, dinamika tersebut berubah. Laporan menyebutkan bahwa warga Muslim yang sebelumnya aktif berpartisipasi dalam acara ini, tidak lagi terlihat.
Salah satu saksi mata, yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan kekecewaannya. “Dulu, perayaan ini sangat inklusif. Kami, sebagai Muslim, selalu merasa diterima dan ikut merayakan bersama. Tapi sekarang, rasanya berbeda, lebih tertutup,” ujarnya.
Perubahan ini tidak hanya disayangkan oleh warga Muslim, tetapi juga menimbulkan pertanyaan dari berbagai kalangan mengenai arah toleransi di Kolkata. Festival Janmashtami, yang sejatinya merupakan perayaan keagamaan Hindu, sebelumnya berhasil merangkul keragaman, menciptakan momen kebersamaan yang melampaui batas agama.
Seorang tokoh masyarakat dari komunitas Hindu, Bapak R. Sharma, saat dihubungi, memberikan tanggapan singkat. “Fokus utama kami adalah menjalankan ritual keagamaan sesuai tradisi kami. Partisipasi pihak lain selalu kami sambut, namun kami tidak bisa memaksakan kehendak,” jelasnya.
Meskipun demikian, hilangnya partisipasi Muslim dalam perayaan Janmashtami di Kolkata pada 27 Agustus 2018 ini menjadi catatan penting. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran dalam cara perayaan keagamaan dipandang dan dilaksanakan, yang berpotensi mengurangi ruang dialog dan kebersamaan antarumat beragama di masa mendatang.
