Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali mengingatkan masyarakat akan potensi risiko yang menyertai lonjakan kredit konsumtif, khususnya di tengah geliat penjualan mobil yang tercatat tumbuh 15,9 persen. Peningkatan ini, meski menunjukkan geliat ekonomi, perlu diwaspadai agar tidak berujung pada masalah keuangan pribadi.
Kenaikan angka penjualan mobil ini menjadi sorotan penting bagi OJK. Meskipun data spesifik mengenai periode waktu kenaikan ini tidak dirinci dalam sumber, namun signifikansi pertumbuhan tersebut mendorong OJK untuk segera mengeluarkan peringatan. Fokus utama OJK adalah pada sisi konsumsi yang didanai melalui kredit, yang berpotensi menimbulkan beban finansial jika tidak dikelola dengan baik.
Lebih lanjut, OJK menekankan pentingnya literasi keuangan yang memadai bagi masyarakat. Pemahaman mendalam mengenai produk kredit, bunga, tenor, serta kemampuan membayar cicilan adalah kunci utama. Tanpa literasi yang cukup, masyarakat rentan terjerat dalam pinjaman yang tidak sesuai dengan kapasitas finansial mereka.
Perhatian khusus juga diberikan pada maraknya pinjaman ilegal atau rentenir. OJK terus mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dan tidak tergiur dengan tawaran pinjaman mudah dari sumber yang tidak terdaftar dan diawasi oleh OJK. Pinjaman ilegal seringkali datang dengan bunga mencekik dan praktik penagihan yang merugikan.
OJK menyarankan agar masyarakat melakukan pengelolaan keuangan secara bijak. Sebelum mengambil keputusan untuk membeli kendaraan secara kredit, penting untuk melakukan kalkulasi yang cermat terhadap kemampuan finansial, baik dari sisi pendapatan maupun pengeluaran rutin. Memastikan adanya dana darurat dan tidak menjadikan cicilan kendaraan sebagai beban utama pengeluaran bulanan adalah langkah preventif yang krusial.
