Divisi game Microsoft, Xbox, menghadapi penurunan pendapatan yang signifikan pada kuartal terakhir. Kondisi ini bersamaan dengan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menimpa ratusan karyawan di industri game secara global, termasuk di lingkungan Xbox.
Meskipun Microsoft secara keseluruhan mencatatkan laba yang meroket, kinerja divisi Xbox justru berbanding terbalik. Pendapatan dari platform Xbox dilaporkan mengalami kejatuhan sebesar 30,6 triliun rupiah. Penurunan ini mengindikasikan adanya tantangan yang dihadapi oleh unit bisnis game Microsoft.
Kondisi finansial yang kurang menggembirakan ini diduga menjadi salah satu faktor pendorong di balik keputusan Microsoft untuk merumahkan sebagian karyawannya. Pemutusan hubungan kerja ini tidak hanya terjadi di Xbox, tetapi juga meluas ke divisi lain dalam perusahaan, mencerminkan tren restrukturisasi yang sedang berlangsung di sektor teknologi.
Sebelumnya, Microsoft telah mengumumkan PHK terhadap sekitar 1.900 karyawan di divisi game-nya pada Januari 2024. Langkah ini diambil menyusul akuisisi Activision Blizzard yang bernilai miliaran dolar. Pernyataan dari CEO Microsoft Gaming, Phil Spencer, pada saat itu menyebutkan bahwa PHK ini dilakukan untuk menyelaraskan strategi dan struktur organisasi pasca-akuisisi.
Spencer dalam pesannya kepada karyawan menyatakan, “Setelah akuisisi Activision Blizzard, kami menyadari perlunya melakukan perubahan untuk merampingkan struktur dan menyelaraskan operasi kami agar kami dapat beroperasi secara efisien.” Ia juga mengakui bahwa keputusan ini sangat sulit dan berdampak pada banyak individu berbakat.
Penurunan pendapatan Xbox dan PHK yang terjadi menjadi sorotan tajam, terutama karena terjadi di tengah penguatan kinerja perusahaan induknya. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai strategi jangka panjang Xbox dalam menghadapi persaingan ketat di industri game yang terus berkembang pesat.
