Tren transfer Premier League menunjukkan lonjakan harga fantastis untuk pemain berposisi gelandang. Namun, muncul pertanyaan krusial: apakah para gelandang mahal ini mampu menorehkan jejak seperti para legenda masa lalu? Transfer besar Enzo Fernández dan Sandro Tonali di bursa transfer musim panas lalu menjadi sorotan, memicu perdebatan tentang nilai sebenarnya dari gelandang modern.
Salah satu indikator menarik tentang peran gelandang masa kini adalah pandangan Enzo Maresca yang menilai Marc Guéhi, seorang bek tengah, lebih mampu mengisi posisi gelandang ketimbang Mateo Kovacic. Guéhi bahkan sempat dimainkan sebagai gelandang oleh Manchester City di awal musim, mengungguli Kovacic, Nico González, dan Matheus Nunes. Dalam konteks ini, rekrutmen Enzo Fernández dengan rekor klub £125 juta bisa diartikan sebagai sinyal ambisius City, atau justru pengeluaran besar untuk pemain cadangan Guéhi.
Tentu saja, ini adalah sedikit candaan. Fernández sebenarnya adalah tipe gelandang yang berbeda dengan Guéhi, utamanya karena ia memang berposisi sebagai gelandang. Ia memiliki fleksibilitas, mampu menerima bola dari penjaga gawang atau bek tengah, mengolah bola di ruang sempit, maju ke sepertiga akhir lapangan sebagai nomor 8, bahkan menyusup ke kotak penalti dan memberikan ancaman gol.
Fernández, layaknya Elliot Anderson yang dibeli dari Nottingham Forest seharga £116 juta (meski transfernya sudah begitu lama hingga tak lagi relevan dalam hitungan jendela transfer), termasuk dalam generasi baru gelandang tengah Premier League. Mereka seolah menawarkan segalanya, meskipun dalam kualitas yang moderat. Atribut utama mereka tampaknya adalah minimnya risiko yang terlihat.
