Sejumlah organisasi profesi wartawan secara serempak melayangkan protes dan kecaman keras terhadap pengacara kondang Hotman Paris Hutapea. Pemicunya adalah dugaan sikap arogan dan tindakan yang dianggap merendahkan martabat para jurnalis.
Kecaman ini muncul setelah beredarnya rekaman video yang memperlihatkan Hotman Paris diduga melontarkan pernyataan bernada merendahkan terhadap wartawan yang sedang melakukan peliputan. Tindakan ini sontak menuai reaksi negatif dari berbagai kalangan insan pers yang menilai hal tersebut tidak pantas disampaikan oleh seorang figur publik.
Salah satu organisasi yang paling vokal menyuarakan kekecewaannya adalah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Ketua Umum PWI, Atal S. Depari, menegaskan bahwa profesi wartawan dilindungi oleh undang-undang dan memiliki peran krusial dalam penyampaian informasi publik. “Kami sangat prihatin dan menyayangkan ucapan Hotman Paris yang terkesan meremehkan profesi wartawan,” ujar Atal S. Depari dalam pernyataannya.
Senada dengan PWI, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) juga turut mengecam sikap Hotman Paris. Ketua AJI, Sasmito, menekankan pentingnya menjaga etika dan menghormati kerja-kerja jurnalistik. “Setiap orang, termasuk tokoh publik, wajib menghormati profesi wartawan. Apa yang disampaikan Hotman Paris jelas telah mencederai semangat kemerdekaan pers dan hak publik untuk mendapatkan informasi,” tegas Sasmito.
Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) pun tidak ketinggalan dalam menyuarakan protesnya. Ketua Umum IJTI, Jamal Yamani, menyatakan bahwa pihaknya akan mengambil langkah lebih lanjut jika Hotman Paris tidak segera memberikan klarifikasi atau permintaan maaf. “Kami mendesak Hotman Paris untuk introspeksi diri dan meminta maaf secara terbuka kepada seluruh insan pers. Jika tidak, kami akan mempertimbangkan langkah hukum,” kata Jamal Yamani.
Insiden ini kembali mengangkat isu mengenai perlindungan terhadap wartawan dan pentingnya kesadaran publik akan peran media. Para jurnalis berharap agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang dan para tokoh publik dapat lebih bijak dalam berinteraksi dengan awak media.
