Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan tuduhan mengejutkan bahwa Iran berupaya membunuh anaknya. Klaim ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang semakin memanas.
Netanyahu tidak memberikan rincian spesifik mengenai rencana pembunuhan yang dituduhkannya tersebut, namun ia menegaskan bahwa intelijen Israel telah mengidentifikasi adanya niat Iran untuk mencelakai putranya. Tuduhan ini menambah daftar panjang perseteruan antara Israel dan Iran, yang telah lama berada dalam konflik proksi dan saling ancam.
Ketegangan antara kedua negara semakin memuncak pasca serangan udara Israel yang menewaskan jenderal senior Garda Revolusi Iran, Mohammad Reza Zahedi, di Damaskus, Suriah, pada awal April 2024. Iran berjanji akan membalas serangan tersebut, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Menanggapi situasi tersebut, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken telah berbicara dengan Netanyahu pada 10 April 2024. Dalam percakapan tersebut, Blinken menegaskan kembali komitmen AS terhadap keamanan Israel dan menyerukan Iran untuk tidak meningkatkan ketegangan lebih lanjut. “Kami telah berkomunikasi dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai situasi tersebut,” kata Blinken dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh Departemen Luar Negeri AS.
Pernyataan Blinken ini menggarisbawahi peran aktif Amerika Serikat dalam meredakan ketegangan di kawasan tersebut. AS berupaya mencegah terjadinya eskalasi yang dapat menarik negara-negara lain ke dalam konflik, yang tentu saja akan membawa dampak buruk bagi stabilitas regional.
Sebelumnya, Iran telah melancarkan serangan balasan terhadap Israel pada 13 April 2024, sebagai respons atas serangan di Damaskus. Serangan ini menggunakan ratusan drone dan rudal, namun sebagian besar berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel dan sekutunya. Meskipun demikian, serangan ini menandai peningkatan signifikan dalam konfrontasi langsung antara kedua negara yang sebelumnya lebih banyak dilakukan melalui perang proksi.
Klaim Netanyahu mengenai upaya pembunuhan terhadap anaknya ini, meskipun belum diuraikan secara detail, menambah dimensi personal pada konflik yang sudah sangat kompleks ini. Hal ini mencerminkan betapa dalam dan luasnya permusuhan antara Israel dan Iran, yang berpotensi terus memicu ketidakstabilan di Timur Tengah.
