Merauke Raih Swasembada Beras: Cetak Sawah dan Optimasi Lahan Beri Harga Terjangkau bagi Warga

Yohanes

Program strategis "cetak sawah rakyat" (CSR) dan optimasi lahan (Oplah) yang digalakkan pemerintah di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, menuai hasil signifikan. Inisiatif ini tidak hanya berhasil mendongkrak produksi pangan, tetapi juga secara nyata menstabilkan harga beras di pasaran, memberikan kelegaan bagi masyarakat. Jika sebelumnya harga beras sempat menyentuh angka Rp 26.500 per kilogram, kini masyarakat dapat membeli kebutuhan pokok ini dengan harga yang jauh lebih ramah di kantong, berkisar antara Rp 13.500 hingga Rp 15.500 per kilogram.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Merauke, Yosefa Rumaseu, menegaskan bahwa penurunan drastis harga beras ini merupakan bukti konkret keberhasilan program CSR dan Oplah yang mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat. "Sebelum program ini berjalan, harga beras di Merauke memang sangat tinggi, pernah mencapai Rp 26.500 per kilogram. Namun, setelah kegiatan cetak sawah rakyat dan optimasi lahan berjalan, harga beras yang dijual di lapak-lapak maupun pasar turun drastis. Kini, masyarakat bisa mendapatkan beras dengan harga di kisaran Rp 15.500 per kilogram. Yang terpenting, masyarakat bisa membeli beras dengan harga lebih terjangkau, sementara petani tetap mendapatkan manfaat dari peningkatan produksi," jelas Yosefa.

Ia menambahkan bahwa upaya pengembangan pertanian di Merauke sebenarnya telah berlangsung lama. Namun, sejak tahun 2024, kehadiran program CSR dan Oplah yang didukung penuh oleh pemerintah pusat menjadi akselerator utama dalam mengoptimalkan potensi lahan pertanian Merauke yang melimpah. "Pada tahun 2024, dengan perhatian penuh dari pemerintah pusat, seluruh potensi yang ada semakin diberdayakan melalui program CSR dan Oplah. Dukungan sumber daya sangat besar, mulai dari alat dan mesin pertanian, pupuk, hingga berbagai sarana produksi lainnya," ungkap Yosefa.

Dampak nyata dari program ini terlihat jelas pada capaian produksi tahun 2025. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya lonjakan produksi beras di Provinsi Papua Selatan sebesar 66,46 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2024, produksi beras tercatat sebanyak 124.355,12 ton dari luas panen padi 47.168,57 hektare. Angka ini melonjak menjadi 207.006,95 ton pada tahun 2025, dengan luas panen yang membengkak menjadi 79.433,92 hektare, atau naik sebesar 68,40 persen.

"Dengan program besar yang dijalankan Bapak Presiden dan Bapak Menteri Pertanian, produksi kami meningkat sekitar 65 persen dibandingkan sebelumnya. Kenaikan produksi ini membuat pasokan beras semakin kuat, sehingga harga di tingkat masyarakat menjadi lebih stabil dan terjangkau," ujar Yosefa, menggarisbawahi kontribusi program pemerintah pusat dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.

Keberhasilan program ini tidak hanya dirasakan oleh konsumen, tetapi juga oleh para petani. Menurut Yosefa, peningkatan produksi yang terjadi berhasil menciptakan keseimbangan yang harmonis antara keterjangkauan harga bagi masyarakat dan peningkatan kesejahteraan petani. "Terjadi penurunan harga beras yang membuat masyarakat lebih mudah menjangkaunya, tetapi di sisi lain kesejahteraan petani juga meningkat. Program ini mendorong perubahan pola bertani dari yang masih tradisional menjadi lebih modern. Nilai usaha tani meningkat dan masyarakat bisa mendapatkan beras dengan harga yang lebih terjangkau," paparnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke, Martha Bayu, menjelaskan bahwa pemerintah daerah secara rutin memantau harga beras melalui petugas enumerator. Petugas ini setiap hari melakukan pencatatan dan pelaporan harga kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas). "Kami memiliki petugas enumerator yang setiap hari turun ke lapangan untuk memantau harga dan melaporkannya ke Bapanas. Untuk beras premium, Harga Eceran Tertinggi (HET) berada di Rp 15.800 per kilogram, sedangkan beras medium Rp 15.500 per kilogram," ungkap Martha.

Hasil pemantauan di berbagai pasar di Kota Merauke maupun wilayah sekitarnya menunjukkan bahwa harga beras secara umum masih berada di bawah HET yang ditetapkan pemerintah. "Dari pengamatan kami, harga beras yang dijual di pasar maupun lapak-lapak masih berada di bawah HET, baik untuk beras premium maupun medium. Memang ada beberapa jenis beras tertentu yang dijual lebih tinggi karena faktor transportasi dan distribusi, terutama ke daerah-daerah yang jauh. Namun secara umum harga beras di Merauke masih terkendali dan sesuai dengan regulasi pemerintah," jelas Martha.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan program CSR dan Oplah tidak hanya berdampak pada peningkatan volume produksi, tetapi juga sangat krusial dalam menjaga stabilitas harga dan keterjangkauan pangan bagi seluruh lapisan masyarakat. "Jika berbicara dari sisi ketersediaan pangan, stabilisasi harga, dan keterjangkauan harga bagi masyarakat, program Oplah dan cetak sawah rakyat sangat membantu. Fakta di lapangan menunjukkan harga beras masih berada pada taraf yang sesuai dengan regulasi pemerintah dan tetap terjangkau bagi masyarakat," tuturnya.

Dampak positif program ini juga dirasakan langsung oleh Fransiskus Gebze, seorang petani sekaligus pemilik hak tanah ulayat di Kabupaten Merauke. Ia mengaku sangat bersyukur dengan adanya program perluasan lahan yang digagas pemerintah. "Dulu harga beras mahal sekali, sekarang masyarakat bisa membelinya dengan harga sekitar Rp 15 ribu per kilogram dari yang sebelumnya Rp 20 ribu. Jadi saya bersyukur pemerintah membuka lahan di sini," kata Fransiskus. Menurutnya, perluasan areal tanam ini telah meningkatkan produksi gabah secara signifikan, sehingga pasokan beras di Merauke semakin terjamin dan harganya menjadi lebih stabil.

Keberhasilan program cetak sawah rakyat dan optimasi lahan di Merauke menjadi bukti nyata bahwa peningkatan produksi pertanian dan stabilisasi harga dapat berjalan beriringan. Dengan dukungan komprehensif dari pemerintah pusat, adopsi teknologi pertanian modern, serta partisipasi aktif dari para petani di lapangan, Merauke tidak hanya memperkuat posisinya sebagai salah satu lumbung pangan nasional, tetapi juga membuktikan bahwa peningkatan produktivitas dapat diwujudkan bersamaan dengan penyediaan pangan yang terjangkau bagi masyarakat luas dan peningkatan kesejahteraan para pelaku pertanian.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All