Sebuah studi inovatif yang dipimpin oleh peneliti Gabriel Harry telah menguraikan kemungkinan skenario kelangsungan hidup umat manusia, bahkan jika Matahari berhenti bersinar. Temuan ini menawarkan pandangan futuristik tentang bagaimana Bumi dapat tetap layak dihuni untuk jangka waktu yang luar biasa panjang, mencapai hingga 9,1 juta miliar tahun.
Penelitian ini menyoroti potensi teknologi dan adaptasi yang dapat diadopsi manusia untuk menghadapi kondisi ekstrem tersebut. Harry mengusulkan bahwa dengan pengembangan teknologi yang tepat, peradaban manusia dapat bertahan dari salah satu peristiwa kosmik paling mengerikan.
Inti dari skenario yang diajukan adalah pemanfaatan sumber energi alternatif yang dapat menggantikan peran Matahari. Harry menjelaskan, “Kita bisa saja menggali jauh ke dalam inti Bumi untuk memanfaatkan panas geotermal yang melimpah. Panas ini dapat digunakan untuk menjaga suhu permukaan planet tetap hangat dan mendukung ekosistem buatan.” Ia menambahkan bahwa energi geotermal ini jauh lebih stabil dan tahan lama dibandingkan energi yang berasal dari Matahari.
Lebih lanjut, studi ini juga mempertimbangkan aspek pasokan makanan. Dengan tidak adanya cahaya matahari, pertanian konvensional tidak akan lagi memungkinkan. Oleh karena itu, Harry mengemukakan perlunya pengembangan sistem pertanian vertikal tertutup yang sepenuhnya bergantung pada pencahayaan buatan dan nutrisi sintetis. “Kita perlu menciptakan biosfer yang terkontrol, di mana segala kebutuhan makhluk hidup, termasuk manusia, dapat dipenuhi secara mandiri,” ujarnya.
Perhitungan yang dilakukan oleh tim peneliti menunjukkan bahwa sumber daya energi geotermal yang tersedia di inti Bumi diperkirakan dapat menopang kehidupan selama triliunan tahun. Angka 9,1 juta miliar tahun ini didasarkan pada perkiraan cadangan energi panas bumi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini memberikan jendela waktu yang sangat besar bagi umat manusia untuk terus berkembang dan berevolusi.
Meskipun skenario ini terdengar seperti fiksi ilmiah, Gabriel Harry menekankan pentingnya pemikiran jangka panjang dalam perencanaan masa depan peradaban. “Memikirkan skenario terburuk sekalipun dapat mendorong inovasi dan kesiapan kita menghadapi tantangan yang tak terduga di masa depan. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi juga tentang memastikan kelangsungan spesies kita,” pungkas Harry.
