Seorang mantan direktur teknik di Meta Platforms, Frances Haugen, memberikan kesaksian yang mengejutkan di hadapan Kongres Amerika Serikat pada Selasa (26/10/2021). Ia menuduh CEO Meta, Mark Zuckerberg, secara sengaja memprioritaskan pertumbuhan dan keuntungan di atas keselamatan pengguna, terutama anak-anak.
Dalam keterangannya, Haugen menyatakan bahwa budaya di Meta telah lama menganggap isu keselamatan anak sebagai prioritas sekunder. Ia mengutip pernyataan internal perusahaan yang mengindikasikan bahwa Zuckerberg sendiri tidak bersedia mengorbankan pertumbuhan untuk meningkatkan keamanan, terutama terkait perlindungan anak di platform media sosialnya.
Kesaksian ini muncul sebagai bagian dari penyelidikan Kongres terhadap praktik Meta, yang semakin disorot setelah serangkaian bocoran dokumen internal yang diungkap oleh The Wall Street Journal. Dokumen-dokumen tersebut, yang berasal dari riset internal Meta, menunjukkan bahwa perusahaan mengetahui dampak negatif Instagram terhadap kesehatan mental remaja, termasuk peningkatan risiko depresi, kecemasan, dan citra tubuh yang buruk.
Haugen, yang pernah memegang posisi penting dalam divisi integritas sipil Meta, menekankan bahwa perusahaan memiliki sumber daya yang cukup untuk mengatasi masalah ini, namun enggan melakukannya. Ia mencontohkan bahwa Meta memiliki algoritma yang dapat mendeteksi konten berbahaya, namun tidak sepenuhnya menerapkannya karena kekhawatiran akan dampak terhadap keterlibatan pengguna dan pendapatan iklan.
“Mark Zuckerberg telah memelihara budaya yang menganggap keselamatan anak sebagai hal sekunder,” tegas Haugen saat memberikan kesaksiannya. Ia menambahkan bahwa perusahaan lebih memilih untuk menunda atau meminimalkan upaya perbaikan yang dapat mengurangi keuntungan. Haugen juga mengungkapkan bahwa Meta memiliki kemampuan untuk membatasi paparan konten yang berpotensi berbahaya bagi anak-anak, tetapi memilih untuk tidak melakukannya.
Lebih lanjut, Haugen mengkritik struktur kepemilikan saham Meta yang memberikan Zuckerberg kontrol yang sangat besar atas keputusan perusahaan. Hal ini, menurutnya, menghambat akuntabilitas dan membuat perubahan yang berarti sulit dicapai. Ia menyarankan agar regulator mempertimbangkan untuk memisahkan divisi-divisi Meta, seperti Instagram dan WhatsApp, untuk menciptakan persaingan yang lebih sehat dan meningkatkan pengawasan.
Kesaksian Haugen ini menambah tekanan terhadap Meta, yang telah menghadapi serangkaian kritik dan investigasi terkait dampaknya terhadap masyarakat. Perusahaan sendiri telah membantah tuduhan bahwa mereka memprioritaskan keuntungan di atas keselamatan, namun bukti-bukti yang muncul terus menimbulkan keraguan.
