Pemain bertahan Chelsea, Lucy Bronze, menyerukan agar para pesepakbola bersuara lebih lantang mengenai isu-isu kemanusiaan, terutama terkait nasib para pengungsi. Pengalaman pribadinya mengunjungi kamp pengungsi di Kolombia pada musim panas lalu semakin memperkuat keyakinannya akan pentingnya dukungan dan advokasi.
Bronze, yang baru-baru ini menjalani diagnosis ADHD dan autisme, mengakui bahwa pikirannya selalu aktif dan penuh dengan berbagai gagasan. “Saya tidak pandai menonton TV – saya tidak bisa diam,” ujarnya saat ditemui di lapangan latihan Chelsea di Cobham. “Seseorang baru-baru ini bertanya apa yang saya dengarkan di mobil dan orang lain menimpali seperti: ‘Lucy punya podcast sendiri yang berjalan di kepalanya.’ Saya tidak mendengarkan musik, saya tidak mendengarkan podcast, saya hanya punya sejuta pikiran yang berputar.” Pengakuan ini datang setelah rekan setimnya, Naomi Girma, terheran-heran melihat Bronze berlatih keras di gym tanpa iringan musik. “Saya berkata: ‘Ini benar-benar ada di kepala saya, saya tidak butuh apa-apa lagi.'”
Di tengah kesibukannya di dunia sepak bola profesional, Bronze menemukan makna mendalam dalam upayanya membantu orang lain. Kunjungan ke Kolombia menjadi titik balik yang menginspirasinya untuk lebih aktif dalam kegiatan sosial. Ia melihat langsung bagaimana sepak bola dapat menjadi alat pemersatu dan pemberi harapan bagi mereka yang kehilangan segalanya. “Sekarang adalah waktu yang tepat bagi para pemain untuk bersuara,” tegas Bronze, menekankan potensinya untuk memberikan dampak positif di luar lapangan hijau.
Lebih lanjut, Bronze berharap FIFA dan badan sepak bola lainnya dapat memberikan dukungan yang lebih konkret bagi para pengungsi. Ia meyakini bahwa dengan kekuatan global yang dimiliki, organisasi-organisasi tersebut dapat melakukan lebih banyak lagi untuk meningkatkan kesadaran dan menyediakan bantuan nyata. Pengalaman pribadinya menjadi bukti bahwa kepedulian individu, ketika disalurkan melalui platform yang tepat, dapat menciptakan perubahan yang signifikan.
