JAKARTA – Pebalap Mooney VR46 Racing Team, Luca Marini, secara tegas menyatakan dukungannya terhadap keputusan suspensi yang dijatuhkan kepada rekan sekaligus sahabatnya, Marco Bezzecchi, usai insiden di MotoGP Sprint Race Brno. Marini meyakini bahwa tindakan kekerasan, sekecil apapun, tidak dapat ditoleransi dalam olahraga balap motor profesional.
Insiden yang berujung pada sanksi Bezzecchi terjadi setelah pebalap asal Italia itu terjatuh dari motornya di Sirkuit Brno pada Sabtu lalu. Dalam kondisi frustrasi pasca-kecelakaan, Bezzecchi dilaporkan melakukan kontak fisik dengan seorang marshal di lintasan. Perilaku ini sontak menjadi sorotan dan memicu diskusi hangat di kalangan pebalap dan penggemar MotoGP.
Sebagai pebalap yang telah lama berteman dan berada dalam naungan VR46 Rider Academy bersama Bezzecchi selama lebih dari satu dekade, banyak pihak memprediksi Marini akan menentang sanksi tersebut. Namun, pebalap yang juga tergabung dalam tim Honda HRC itu justru memberikan pandangan yang berbeda.
“Saya setuju dengan keputusan tersebut,” ujar Marini dalam sebuah wawancara usai gelaran MotoGP Ceko. Ia mengakui bahwa adrenalin pebalap seringkali tinggi di lintasan, namun hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk melakukan tindakan yang tidak dapat diterima.
“Memang benar bahwa dalam momen seperti itu, adrenalin kami sebagai pebalap sangat tinggi, sehingga ia (Bezzecchi) saya rasa memahami kesalahannya. Ia sudah menjelaskan, meminta maaf, dan segalanya. Jadi, semua orang menyepakati perilakunya hari ini,” tambah Marini.
Lebih lanjut, Marini menekankan pentingnya menjaga sportivitas dan menjauhi segala bentuk kekerasan, terlepas dari tingkat keparahannya. “Kita harus selalu menentang kekerasan, meskipun itu bukan sesuatu yang gila, namun itu adalah perilaku yang tidak dapat diterima dalam olahraga apapun,” tegasnya.
Keputusan steward MotoGP untuk memberikan suspensi kepada Bezzecchi dinilai cukup berat, namun Marini memahami alasan di baliknya. “Terkadang di masa lalu kita melihat ada dorongan atau teriakan kepada marshal, namun tindakan seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi, saya bisa memahami para steward mengambil keputusan ini,” jelasnya.
Marini juga mengamati bahwa besarnya perhatian yang diberikan pada sanksi Bezzecchi turut dipengaruhi oleh posisinya sebagai pemimpin klasemen kejuaraan dunia. “Jika ia adalah pebalap terakhir di grid, mungkin semuanya akan berlalu lebih tenang, menurut saya,” katanya.
Ia berharap insiden ini dapat menjadi pembelajaran berharga bagi seluruh pebalap, terutama bagi para rider muda yang masih meniti karier di kelas-kelas yang lebih kecil seperti Moto3. “Saya pikir setiap pebalap di paddock ini melihat sanksi tersebut dan berkata, ‘Oke, dipahami’,” ujar Marini.
Menurut Marini, penegakan aturan yang lebih tegas, seperti yang telah dilakukan di Moto3 dengan memberikan penalti lebih berat bagi pebalap yang melambat di lintasan atau menyebabkan kecelakaan, sangat efektif dalam meningkatkan perilaku para pebalap muda.
“Ini sangat bagus, karena pada akhirnya ini seperti mereka (steward) melakukan pekerjaan yang fantastis untuk saya di Moto3, memberikan penalti lebih besar untuk melambat di lintasan, menyebabkan kecelakaan, dan lain-lain. Ini sangat meningkatkan perilaku para pebalap, para pebalap muda,” ungkapnya.
Meskipun demikian, Marini mengakui bahwa masih ada ruang untuk perbaikan dalam hal kejelasan penalti di MotoGP. Ia berpendapat bahwa dalam setiap olahraga, termasuk motorsport, aturan seharusnya sangat jelas: jika melakukan kesalahan ini, maka mendapatkan penalti ini.
“Di MotoGP kami terus memperbaikinya, namun terkadang masih belum begitu dapat diprediksi atau objektif. Terkadang masih ada ruang untuk interpretasi, karena ini juga olahraga yang cukup sulit dipahami dari luar. Namun, setiap tahun para steward melakukan pekerjaan yang hebat dan terus membaik,” tuturnya.
Marini menutup pernyataannya dengan ungkapan kepuasan atas kinerja para steward yang terus berkembang dan mendengarkan masukan dari para pebalap. “Jadi, kita hanya bisa senang dan puas dengan pekerjaan mereka, karena mereka terus berkembang, tumbuh, dan mendengarkan umpan balik kami,” pungkasnya.
Sanksi terhadap Marco Bezzecchi ini diharapkan dapat menjadi standar baru dalam penegakan disiplin di MotoGP, memastikan bahwa keselamatan dan sportivitas tetap menjadi prioritas utama di setiap balapan. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa tidak ada tempat bagi kekerasan dalam kompetisi yang mengutamakan kecepatan dan keterampilan.











