Sunday, 9 August 2026
BREAKING
BERITA

Logam Tanah Jarang Indonesia: Potensi Pendapatan Triliunan Rupiah dari Harta Karun Bawah Laut

Oleh Emanuel August 9, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Indonesia menyimpan potensi kekayaan alam yang luar biasa di dalam perut buminya, salah satunya adalah logam tanah jarang (LTJ). Berbagai jenis LTJ yang ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi, bahkan mampu mencapai Rp18 miliar per ton. Kekayaan mineral strategis ini membuka peluang besar bagi perekonomian nasional, mengingat permintaan global yang terus meningkat.

Logam tanah jarang merupakan sekelompok 17 unsur kimia yang memiliki sifat unik dan krusial dalam industri modern. Unsur-unsur seperti Neodymium, Praseodymium, Dysprosium, dan Terbium menjadi komponen vital dalam pembuatan teknologi canggih. Mulai dari magnet super kuat untuk turbin angin dan kendaraan listrik, hingga komponen penting dalam perangkat elektronik seperti smartphone dan layar televisi.

Penemuan LTJ di Indonesia bukan hanya sekadar kabar baik, tetapi juga sebuah tantangan sekaligus peluang. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif pernah menyampaikan kekhawatirannya mengenai potensi kehilangan pendapatan negara jika Indonesia hanya mengekspor bahan mentah. “Kita jangan sampai menjualnya mentah-mentah, nanti harganya kan murah. Kalau kita olah dulu, nanti nilainya tinggi,” ujar Arifin Tasrif pada suatu kesempatan, menggarisbawahi pentingnya hilirisasi industri.

Nilai ekonomi LTJ yang fantastis ini terbukti dari harga pasar internasional. Sebagai gambaran, harga Neodymium saja bisa mencapai USD 70 per kilogram, atau sekitar Rp1 juta per kilogramnya. Jika dikonversikan menjadi ton, nilainya bisa mencapai Rp1 miliar per ton. Sementara itu, logam seperti Dysprosium dan Terbium memiliki harga yang jauh lebih tinggi lagi, bahkan bisa mencapai USD 1.200 per kilogram atau sekitar Rp18 juta per kilogramnya, yang berarti Rp18 miliar per ton.

Potensi besar ini mendorong pemerintah untuk serius dalam pengembangan industri LTJ di dalam negeri. Upaya hilirisasi melalui pembangunan smelter menjadi prioritas utama. Dengan adanya smelter, Indonesia tidak hanya bisa mengolah LTJ menjadi produk bernilai tambah tinggi, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada negara lain dalam pasokan bahan baku teknologi masa depan. Hal ini sejalan dengan target Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam rantai pasok global mineral strategis.

Bagikan: Facebook X WhatsApp