Langit di atas Kota Pontianak mendadak berubah warna menjadi kuning pekat pada Selasa (15/10/2019) lalu, menimbulkan kehebohan di kalangan warga. Fenomena visual yang tak biasa ini sontak memicu berbagai spekulasi dan pertanyaan mengenai penyebabnya. Menanggapi kegelisahan publik, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhirnya memberikan penjelasan resmi.
Menurut keterangan resmi yang dirilis oleh BMKG, fenomena menguningnya langit Pontianak tersebut disebabkan oleh adanya kabut asap yang cukup tebal. Kabut asap ini berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang intensitasnya meningkat di beberapa wilayah, khususnya di Kalimantan Barat.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak, Erika Mardiyanti, menjelaskan bahwa partikel-partikel halus dari asap kebakaran yang terbawa angin hingga mencapai atmosfer kota. “Partikel asap ini kemudian berinteraksi dengan sinar matahari, memantulkan dan menyerap cahaya matahari sehingga menghasilkan warna kuning yang pekat seperti yang terlihat,” ujar Erika Mardiyanti dalam pernyataannya.
BMKG juga merinci bahwa konsentrasi partikel asap di udara saat itu memang sedang tinggi. Hal ini diperparah dengan kondisi cuaca yang cenderung tenang, sehingga asap tidak mudah tersebar dan bertahan di lapisan atmosfer bawah. Kualitas udara di Pontianak pada hari itu dilaporkan masuk dalam kategori tidak sehat.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan dampak serius karhutla yang tidak hanya mengancam kesehatan dan lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi fenomena alam sehari-hari. BMKG terus memantau perkembangan kualitas udara dan potensi penyebaran kabut asap, serta mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti informasi resmi yang dikeluarkan oleh pihak berwenang terkait penanganan karhutla dan dampaknya.
