Pembalap Red Bull KTM, Brad Binder, melontarkan protes keras setelah hasil balapan MotoGP Assen pada Minggu (30/6) dianulir akibat penalti tekanan ban. Binder, yang awalnya finis di posisi kesembilan, harus menerima kenyataan pahit turun ke peringkat kesebelas setelah mendapatkan penalti waktu 16 detik. Ia merasa penalti ini "salah" dan "tidak adil" lantaran informasi penting di dashboard motornya terhalang oleh peringatan batas lintasan yang tak kunjung hilang.
Insiden ini bermula setelah balapan usai, ketika Race Direction menemukan bahwa tekanan ban depan motor RC16 milik Binder kurang satu lap dari batas minimal yang disyaratkan. Regulasi MotoGP menetapkan bahwa pembalap wajib menjaga tekanan ban depan di atas ambang batas minimum selama minimal 15 dari total 26 lap balapan. Data menunjukkan bahwa ban depan Binder hanya memenuhi syarat selama 14 lap.
Brad Binder tidak membantah data yang disajikan, namun ia memiliki argumen kuat mengenai penyebab pelanggaran tersebut. Pembalap asal Afrika Selatan ini menjelaskan bahwa peringatan batas lintasan yang dikirimkan oleh Race Direction menutupi seluruh layar dashboard motornya. "Pesan terakhir yang saya lihat di dashboard adalah satu lap dan itu sudah masuk," ujar Binder setelah balapan. "Kemudian, Race Direction mengirimkan peringatan batas lintasan yang tidak pernah mereka hapus."
Peringatan tersebut, menurut Binder, bertahan selama delapan lap terakhir balapan, membuat ia kehilangan akses ke informasi krusial. "Itu menutupi seluruh dashboard saya sejak delapan lap tersisa," keluhnya. "Saya tidak bisa melihat di mana tekanan ban depan saya, saya tidak bisa melihat waktu lap saya, saya tidak bisa melihat apa pun selain peringatan batas lintasan yang berkedip selama delapan lap." Kondisi ini membuatnya tidak dapat memantau dan menyesuaikan tekanan ban secara real-time.
Aturan tekanan ban depan di MotoGP telah menjadi subjek perdebatan sejak diberlakukan secara ketat pada musim ini, dengan tujuan meningkatkan keselamatan dan memastikan persaingan yang adil. Para pembalap diwajibkan untuk menjaga tekanan ban di atas ambang batas tertentu agar performa ban tetap optimal dan terhindar dari potensi bahaya. Kegagalan memenuhi standar ini akan berujung pada penalti waktu pasca-balapan.
Pembalap biasanya memiliki strategi untuk menjaga tekanan ban, seperti mengikuti pembalap lain dalam jarak dekat atau memanfaatkan slipstream. Tujuannya adalah untuk meningkatkan suhu ban dan, secara tidak langsung, tekanan di dalamnya. Namun, tanpa informasi yang jelas di dashboard, upaya penyesuaian ini menjadi sangat sulit. Ini menyoroti betapa vitalnya data telemetri bagi pembalap di tengah kecepatan tinggi dan tekanan balapan.
"Jadi, saya tidak percaya mereka bisa memberi saya penalti. Dan jika mereka bisa, itu sangat tidak adil," tegas Binder dengan nada frustrasi. Ia menambahkan, "Saya akan pergi ke sana sekarang, karena ini salah! Anda tidak bisa memberi saya penalti ketika mereka mengirimkan pesan yang menghilangkan alat kami untuk mengetahui posisi kami." Protes ini menggarisbawahi ketegangan antara penegakan aturan teknis dan kondisi operasional di lintasan.
Meskipun penalti 16 detik telah dikonfirmasi dan membuatnya turun dua posisi, Binder tetap mencoba melihat sisi positif dari performa motornya. "Para kru membuat motor saya lebih baik hari ini; jauh lebih stabil. Saya bisa mendorong sedikit lebih keras. Saya hanya butuh lebih banyak kecepatan… dan sedikit lebih banyak tekanan," ujarnya, mencoba berseloroh tentang ironi situasi tersebut. Tekanan ban belakang motornya sendiri tidak bermasalah, tercatat di atas ambang batas minimum selama 23 lap.
Brad Binder bukanlah satu-satunya pembalap yang menerima penalti tekanan ban di Assen. Pembalap wildcard Yamaha, Augusto Fernandez, juga dikenai penalti serupa karena tekanan ban depannya kurang dua lap dari batas minimal. Namun, penalti tersebut tidak mengubah posisi Fernandez yang finis di urutan ke-15, sehingga dampaknya tidak sebesar yang dialami Binder.
Insiden ini memicu pertanyaan lebih lanjut mengenai sistem komunikasi antara Race Direction dan pembalap, serta desain dashboard yang rentan terhalang oleh peringatan. Pentingnya visibilitas data krusial di dashboard motor tidak bisa diremehkan, mengingat sepersekian detik bisa menjadi penentu di ajang MotoGP. Situasi yang dialami Brad Binder mungkin akan memicu diskusi di kalangan tim dan otoritas balap untuk meninjau ulang protokol peringatan dan sistem informasi pembalap demi menghindari insiden serupa di masa mendatang.











