Striker Gotham FC, Esther González, mengejutkan dunia sepak bola dengan keputusannya untuk meninggalkan olahraga tersebut demi urusan pribadi di Spanyol. Namun, tak berselang lama, ia justru menandatangani kontrak dengan klub Arab Saudi, Al Qadsiah. Kepindahan tak terduga ini memicu pertanyaan mengenai profesionalisme dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan penggemar LGBTQ+ yang telah menyatakan penolakan terhadap liga Arab Saudi.
Perjalanan González bersama Gotham FC ibarat kisah dongeng. Sebagai pemenang Piala Dunia, ia bergabung dengan klub yang kurang berprestasi, memimpin mereka meraih gelar juara pertama, memuji kualitas liga, dan menikmati kehidupannya di sana. Ia bahkan memperpanjang kontrak, kembali membawa klub meraih gelar juara, dinominasikan sebagai MVP liga, dan memecahkan rekor pencetak gol terbanyak klub. Namun, kisah ini berakhir mendadak, hanya sembilan hari setelah rekor tersebut dicetak.
Pada 27 Juli, Gotham mengumumkan bahwa mereka berpisah secara damai dengan González karena sang striker “untuk sementara waktu menjauh dari sepak bola untuk mengurus urusan pribadi di Spanyol”. Pengumuman tersebut diwarnai ucapan terima kasih dan dukungan dari dunia sepak bola wanita.
Namun, kurang dari sebulan setelah kepergiannya dari Gotham, Al Qadsiah, klub dari Liga Utama Wanita Arab Saudi, mengumumkan González sebagai rekrutan terbaru mereka dengan kontrak satu musim yang dapat diperpanjang untuk musim kedua. Wartawan NWSL, Jenna Tonelli, melaporkan, “Sumber liga memberitahu saya bahwa Gotham tidak menduga Esther akan menandatangani kontrak dengan klub lain secepat ini.” Hal ini menimbulkan berbagai pertanyaan: apakah ia benar-benar berniat rehat dari sepak bola saat meninggalkan Gotham? Dan mengapa seorang pemain yang baru saja memiliki anak dengan pasangannya sesama jenis memilih bermain di Arab Saudi, negara yang mengkriminalisasi hubungan sesama jenis?
