Ketegangan yang kembali memanas di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan minyak dunia, memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap pasar keuangan global, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia. Pertanyaan besar muncul: seberapa kuat IHSG mampu mempertahankan tren penguatannya di tengah gejolak geopolitik ini?
Situasi di Selat Hormuz, yang merupakan titik sempit antara Teluk Persia dan Teluk Oman, menjadi sorotan utama pasca serangkaian insiden yang melibatkan kapal tanker. Ketegangan ini secara historis sering kali memicu volatilitas di pasar energi dan berpotensi merembet ke pasar saham.
Meskipun gejolak di Selat Hormuz menciptakan sentimen negatif potensial, analis pasar modal menilai bahwa dampak langsungnya terhadap IHSG mungkin terbatas. Kepala Riset PT Samuel Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji, misalnya, menyatakan bahwa IHSG masih memiliki bantalan yang cukup kuat untuk menahan tekanan.
Nafan Aji memperkirakan bahwa IHSG akan bergerak dalam rentang yang cukup aman. Ia memprediksi IHSG akan berada di level 6.700 hingga 6.900. “Masih ada bantalan yang cukup kokoh, jadi IHSG masih bisa terus menghijau,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya.
Lebih lanjut, Nafan Aji menyoroti faktor-faktor domestik yang menjadi penopang penguatan IHSG. Ia menyebutkan bahwa sentimen positif dari kebijakan pemerintah dan penguatan nilai tukar rupiah menjadi katalis utama yang mendorong indeks saham. “Sentimen positif dari kebijakan pemerintah dan penguatan nilai tukar rupiah menjadi penopang,” tambahnya.
Pergerakan IHSG pada perdagangan Jumat (16/6) lalu menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Indeks ditutup menguat 0,14% di level 6.749,44. Penguatan ini menunjukkan bahwa pasar domestik masih mampu menyerap sentimen negatif dari luar.
Meskipun demikian, kewaspadaan tetap diperlukan. Peristiwa di Selat Hormuz dapat memicu kenaikan harga minyak dunia, yang pada gilirannya dapat memengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat. Namun, selama fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga dan kebijakan pemerintah pro-pertumbuhan terus dijalankan, potensi IHSG untuk terus menguat tetap terbuka lebar.
