Penelitian terbaru mengungkapkan adanya kesenjangan signifikan dalam tingkat skrining kanker pencegahan di Amerika Serikat. Kelompok minoritas orientasi seksual dan identitas gender (SOGI) menunjukkan tingkat partisipasi yang lebih rendah dalam pemeriksaan kanker vital. Temuan ini menjadi pengingat keras akan kebutuhan intervensi sistemik untuk mencapai kesetaraan layanan kesehatan.
Studi cross-sectional yang menganalisis data dari Behavioral Risk Factor Surveillance System periode 2018-2022, menemukan bahwa individu yang mengidentifikasi diri sebagai minoritas SOGI memiliki kepatuhan lebih rendah terhadap rekomendasi skrining kanker. Kesenjangan ini sangat mencolok pada skrining kanker payudara dan kanker serviks.
Dr. Timothy M. Pawlik, penulis senior studi sekaligus Ketua Departemen Bedah di The Ohio State University Wexner Medical Center, menyatakan keprihatinannya. "Meskipun kami menduga adanya tantangan akses layanan kesehatan pada populasi ini, hasil ini tetap mengejutkan," ujarnya. "Bahkan setelah penyesuaian faktor demografis dan sosioekonomi, orientasi seksual dan identitas gender tetap memiliki pengaruh independen terhadap kepatuhan skrining."
Minoritas SOGI, mencakup individu lesbian, gay, biseksual, dan transgender, diperkirakan sekitar 5,5% dari total populasi dewasa di AS. Data menunjukkan hingga 16% dari mereka pernah mengalami diskriminasi di fasilitas kesehatan. Sebagian besar juga melaporkan menghindari layanan medis karena antisipasi perlakuan buruk.
Penelitian sebelumnya mengaitkan risiko kanker yang lebih tinggi pada kelompok ini dengan berbagai faktor. Termasuk hambatan struktural dalam sistem kesehatan, stres psikososial akibat homofobia dan transfobia, serta peningkatan risiko infeksi HIV atau HPV. Perilaku berisiko seperti merokok atau konsumsi alkohol juga dapat dipicu oleh stres psikologis.
Sayangnya, sebagian besar registri kanker belum mengumpulkan data SOGI. Hal ini membatasi pemahaman tren nasional mengenai prevalensi kanker dan kepatuhan skrining pada populasi ini. Pawlik dan timnya berupaya mengisi kekosongan ini dengan mengukur hubungan antara status SOGI dan kepatuhan terhadap rekomendasi skrining tiga jenis kanker.
"Kami tahu individu-unsia ini menghadapi hambatan yang berbeda dari kelompok marjinal lainnya," jelas Pawlik. "Hambatan yang menghalangi adopsi rekomendasi skrining yang universal dapat menyebabkan perbedaan hasil penanganan kanker akibat deteksi dini yang tertunda."
Analisis melibatkan 663.924 responden yang memenuhi kriteria skrining. Sebanyak 1,2% mengidentifikasi diri sebagai minoritas orientasi seksual, dan 0,4% sebagai minoritas identitas gender. Hasil studi menunjukkan perempuan minoritas orientasi seksual memiliki kepatuhan skrining kanker payudara 16% lebih rendah dan kanker serviks 8% lebih rendah dibanding perempuan heteroseksual.
Individu minoritas identitas gender menunjukkan kemungkinan 76% lebih rendah untuk skrining kanker payudara dan 42% lebih rendah untuk kanker serviks dibandingkan individu cisgender. Kepatuhan skrining kanker kolorektal sedikit lebih tinggi pada pria minoritas orientasi seksual, namun tidak ada perbedaan signifikan berdasarkan identitas gender.
Meskipun tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam prevalensi kanker, kesenjangan skrining ini berpotensi meningkatkan risiko diagnosis kanker stadium lanjut. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya upaya multipronged untuk menghilangkan hambatan. Kebijakan yang mewajibkan pengumpulan data SOGI dalam survei nasional dan registri kanker sangat krusial. Selain itu, pesan kesehatan masyarakat perlu lebih inklusif dan tidak bias gender.
"Dengan melaporkan dan menganalisis data ini, serta meningkatkan kesadaran sosial akan kesenjangan spesifik ini, kita dapat mulai merumuskan intervensi yang efektif," tambah Pawlik. Ia juga menekankan peran vital tenaga medis dalam bertanya langsung mengenai riwayat skrining pasien dan mengidentifikasi hambatan yang mungkin dihadapi.











