Kenangan 40 Tahun: Gol ‘Tangan Tuhan’ Maradona yang Tetap Hidup dalam Ingatan

Danu Ilham

Di tengah gegap gempita Piala Dunia 1986 di Meksiko, sebuah momen kontroversial tercipta yang hingga kini masih menjadi perbincangan hangat. Momen tersebut adalah gol yang dicetak oleh legenda sepak bola Argentina, Diego Maradona, ke gawang Inggris dalam pertandingan perempat final, yang kemudian dikenal luas sebagai gol "Tangan Tuhan". Bukan hanya para pemain dan pengamat sepak bola yang menyaksikan kejadian ikonik ini, tetapi juga seorang gadis berusia 17 tahun yang baru pertama kali menonton pertandingan sepak bola secara langsung.

Lourdes Heredia, sang saksi mata yang kala itu berusia 17 tahun, berbagi kisahnya tentang bagaimana ia bisa berada di Stadion Azteca, Mexico City, pada hari bersejarah tersebut. Awalnya, ia sama sekali tidak tertarik pada sepak bola dan belum pernah menghadiri pertandingan. Namun, sebuah tawaran tak terduga datang dari teman ayahnya yang memiliki dua tiket tak terpakai. Meskipun sang ayah sempat khawatir akan potensi ketegangan antara suporter Argentina dan Inggris pasca-Perang Falklands, ibunya tak ragu menerima tawaran tersebut. Bagi Lourdes, kesempatan menyaksikan Piala Dunia adalah momen langka yang tak boleh dilewatkan.

Perjalanan menuju stadion sudah terasa seperti sebuah perayaan. Bendera berkibar dari jendela mobil, dan teriakan yel-yel menggema di tengah kemacetan. Lourdes ikut larut dalam kegembiraan, meneriakkan "Viva México!" bersama warga lainnya, meski tim tuan rumah sudah tersingkir. Baginya, ini lebih seperti pesta akbar daripada sekadar pertandingan sepak bola. Ia berdandan, mengenakan riasan berlebih, membayangkan stadion dipenuhi wajah-wajah tampan alih-alih pemain legendaris.

Begitu memasuki Stadion Azteca, gemuruh penonton terasa luar biasa. Kebisingan, warna-warni, dan atmosfer seolah menyatukan seluruh dunia. Para suporter dari berbagai negara bernyanyi, tertawa, mengenakan kostum unik, dan wajah mereka dicat dengan warna-warna cerah. Lourdes merasa betapa menyenangkan berada di tengah keramaian itu, bahkan jika ia belum sepenuhnya terfokus pada jalannya pertandingan.

Saat pertandingan dimulai, perhatian Lourdes lebih tercurah pada "la ola" atau gelombang Meksiko yang dilakukan penonton. Ia terbawa irama kerumunan, sepak bola menjadi nomor dua. Tiba-tiba, suasana berubah. Seluruh penonton berdiri, diikuti kebingungan, perdebatan, dan kebisingan yang semakin memuncak. Momen yang akan dikenang selama puluhan tahun itu pun terjadi.

Bola melayang di udara menuju kotak penalti Inggris. Diego Maradona melompat tinggi untuk menyambut bola bersama kiper Inggris, Peter Shilton. Namun, alih-alih menyundul, bola justru memantul dari tangan Maradona dan masuk ke gawang. Di mata penonton di sekitarnya, terutama pendukung Inggris, terlihat jelas bahwa tangan Maradona telah menyentuh bola sebelum masuk ke gawang. Pertanyaan tentang keabsahan gol pun muncul, dan wasit yang bertugas menyatakan gol tersebut sah.

Lourdes, yang masih awam dengan sepak bola, menoleh pada pria di sebelahnya, bertanya apa yang sedang terjadi. Ia diberitahu bahwa Maradona telah mencetak gol dengan tangannya, namun wasit tidak melihatnya. Kejadian ini kemudian mendunia dan menjadi kontroversi terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Maradona sendiri kemudian mengakui gol tersebut dicetak "sedikit dengan kepala saya dan sedikit dengan tangan Tuhan," yang mempopulerkan julukan "Gol Tangan Tuhan."

Perdebatan sengit di tribun penonton akibat gol kontroversial itu begitu menyita perhatian, sehingga gol kedua Maradona yang tercipta hanya empat menit kemudian sempat hampir terlewatkan oleh Lourdes. Gol kedua ini justru menjadi momen yang lebih berkesan baginya. Maradona memulai serangan dari wilayahnya sendiri, melakukan gerakan berputar untuk melewati dua pemain Inggris, lalu berlari kencang, bergerak zig-zag menghindari tekel, hingga akhirnya melepaskan tendangan yang berbuah gol. Stadion meledak dalam euforia. Bagi Lourdes, momen inilah yang membuatnya memahami mengapa orang begitu menyukai sepak bola.

Yang menarik adalah, gol kedua ini dirayakan oleh hampir semua orang di stadion, bahkan oleh beberapa pendukung Inggris di dekatnya. Berbeda dengan gol pertama yang menimbulkan perdebatan, gol kedua Maradona ini adalah sebuah mahakarya individu yang memukau.

Setelah pertandingan yang dimenangkan Argentina dengan skor 2-1, Lourdes dan ibunya meninggalkan stadion. Kenangan yang paling membekas baginya bukanlah gol kontroversial, melainkan pengalaman berada di dalam Stadion Azteca yang ikonik. Stadion tersebut bukan hanya tempat bersejarah bagi Meksiko, tetapi juga simbol harapan, terutama setelah gempa bumi besar yang melanda Mexico City pada tahun 1985. Saat itu, Azteca menjadi salah satu tempat perlindungan utama bagi para korban.

Berada di sana terasa begitu khidmat, namun di luar stadion, kehidupan kembali berdenyut dengan kegembiraan. Sambil menikmati taco dan buah dari pedagang kaki lima, Lourdes dan ibunya merasakan kebanggaan besar sebagai orang Meksiko. Mereka tertawa mengenang bagaimana mereka merangkul stereotip Meksiko, seperti sombrero dan warna-warna cerah, dengan humor dan keberanian. Maskot Piala Dunia, cabai dengan sombrero, seolah menangkap semangat itu: berani, ceria, dan identik dengan Meksiko.

Baru bertahun-tahun kemudian Lourdes menyadari bahwa ia telah menyaksikan momen yang benar-benar magis. Meskipun sepak bola tidak pernah benar-benar menjadi kegemarannya, momen tersebut tetap terpatri dalam ingatannya. Ia mengakui bahwa gol pertama memang kontroversial dan menimbulkan kemarahan, tidak hanya di Argentina tetapi juga di Inggris dan seluruh dunia. Ketika ia tinggal dan bekerja di Argentina, frasa "Tangan Tuhan" seringkali diungkit dalam percakapan, terutama saat berbincang dengan rekan dari Inggris.

Namun, Lourdes berharap kontroversi gol pertama tidak membuat orang melupakan keindahan gol kedua Maradona. Gol yang ia saksikan sendiri itu begitu spektakuler, nyaris mustahil dipercaya. Baginya, gol kedua itulah yang lebih layak dibanggakan. Hingga kini, kisah gol "Tangan Tuhan" tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah sepak bola dunia, sekaligus pengingat akan kejeniusan dan kontroversi yang menyertai seorang Diego Maradona.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All