Teheran, Iran – Pemerintah Iran dilaporkan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin secara drastis, memicu gelombang protes di berbagai kota. Keputusan ini diambil di tengah tekanan ekonomi yang semakin menguat akibat sanksi dan konflik yang memanas dengan Amerika Serikat.
Langkah pemerintah ini menaikkan harga bensin sebesar 50% hingga 200% per tanggal 15 November 2019, membuat harga per liter menjadi 15.000 rial untuk kuota 60 liter pertama, dan 30.000 rial untuk kuota tambahan. Kebijakan ini sontak memicu kemarahan publik, menyuarakan ketidakpuasan terhadap penurunan daya beli yang semakin parah.
Pemerintah Iran beralasan bahwa pendapatan tambahan dari kenaikan harga BBM ini akan dialokasikan untuk program bantuan sosial bagi masyarakat miskin. Menteri Koperasi, Pekerjaan, dan Kesejahteraan Sosial Iran, Mohammad Shariatmadari, menyatakan pada 17 November 2019, bahwa dana hasil kenaikan harga bensin akan disalurkan kepada 18 juta keluarga penerima bantuan sosial. Ia menambahkan, “Program ini akan membantu meringankan beban ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat kurang mampu.”
Namun, dampak kenaikan harga BBM ini tidak hanya berhenti pada inflasi. Analis ekonomi menilai langkah ini semakin memperburuk kondisi ekonomi Iran yang sudah tertekan oleh sanksi Amerika Serikat. Kenaikan harga energi secara langsung akan merambat ke berbagai sektor, mulai dari transportasi hingga biaya produksi barang dan jasa, yang pada akhirnya akan semakin menggerus daya beli masyarakat.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat memang telah meningkat dalam beberapa waktu terakhir, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi pada September 2019, yang dituduhkan AS kepada Iran, semakin memperparah situasi. Iran sendiri telah berulang kali membantah keterlibatannya dalam serangan tersebut. Situasi ini secara keseluruhan menciptakan iklim ketidakpastian ekonomi yang signifikan bagi Iran.
