Kemarau panjang yang melanda Lebak, Banten, memunculkan kembali pemandangan tak terduga: sebuah kampung yang sebelumnya tenggelam di dasar Bendungan Karian kini terlihat kembali. Fenomena ini menjadi bukti nyata dampak kekeringan yang ekstrem, mengubah lanskap waduk yang biasanya tergenang air.
Bangunan-bangunan sisa dari kampung tersebut kini tampak jelas di dasar bendungan yang mengering. Sebagian tembok rumah, fondasi, bahkan jalan setapak mulai terlihat, memberikan gambaran tentang kehidupan yang pernah ada di sana sebelum pembangunan bendungan.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Banten, Helmi, mengungkapkan bahwa fenomena ini terjadi karena level air di Bendungan Karian mengalami penurunan drastis. “Level air di Bendungan Karian memang mengalami penurunan yang cukup signifikan akibat musim kemarau ini,” ujar Helmi.
Penurunan muka air ini tidak hanya mengungkap jejak permukiman lama, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terkait ketersediaan air baku. Bendungan Karian sendiri memiliki peran vital dalam penyediaan air baku untuk sejumlah wilayah di Banten, termasuk Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan.
Proyek Bendungan Karian sendiri telah berjalan selama bertahun-tahun. Pembangunan waduk ini memang menuntut pembebasan lahan dan relokasi warga dari area yang akan digenangi. Proses pembangunan bendungan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan ketahanan air dan memenuhi kebutuhan irigasi serta air baku di wilayah tersebut.
Meskipun penampakan kampung yang tenggelam ini memberikan perspektif historis yang menarik, fokus utama saat ini adalah pada dampak kemarau terhadap pasokan air. Pihak berwenang terus memantau kondisi bendungan dan mencari solusi untuk memastikan ketersediaan air bagi masyarakat di tengah kondisi kekeringan yang berkepanjangan.
