JAKARTA – Di tengah derasnya arus informasi, terutama disinformasi yang marak di media sosial, industri produk herbal di Indonesia tak lagi hanya mengandalkan kualitas produk semata. Strategi membangun kredibilitas merek melalui penunjukan figur publik kini menjadi garda terdepan bagi para produsen besar untuk mempertahankan dan memperkuat kepercayaan konsumen. Persaingan yang semakin ketat menuntut inovasi pemasaran yang tidak hanya menjangkau pasar, tetapi juga mampu menepis keraguan yang mungkin timbul akibat isu-isu negatif.
Persaingan sengit dalam industri herbal, khususnya untuk kategori obat masuk angin, telah bergeser dari sekadar adu kualitas produk menjadi arena pembangunan citra merek yang kokoh. Produsen raksasa seperti Antangin JRG dan Tolak Angin, yang diproduksi oleh PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, secara aktif memperkuat komunikasi pemasaran mereka. Tujuannya jelas: menarik konsumen baru sekaligus menjaga loyalitas pasar di era digital yang rentan terhadap berita bohong.
Direktur Utama Sido Muncul, Irwan Hidayat, menekankan betapa rentannya masyarakat terhadap informasi yang beredar di media sosial. "Kita ini hidup di tengah media sosial yang satu hari berita-beritanya bisa membuat kita roboh karena berita hoaks," ujarnya dalam keterangan pers pada Minggu, 21 Juni 2026. Pernyataan ini menggarisbawahi tantangan yang dihadapi industri dalam membangun narasi positif yang tidak mudah digoyahkan oleh informasi yang belum tentu benar.
Salah satu langkah strategis yang diambil Sido Muncul adalah menggandeng aktor ternama Nicholas Saputra pada Mei 2026 untuk kampanye bertema "Dari Indonesia untuk Dunia". Langkah ini dinilai sebagai respons terhadap isu negatif yang sempat beredar di media sosial pada awal tahun yang sama. Isu tersebut mengaitkan kandungan eugenol atau ekstrak daun cengkeh dalam Tolak Angin dengan potensi gangguan lambung.
Meskipun Sido Muncul telah memberikan klarifikasi resmi terkait isu tersebut, kabar burung ini sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan sebagian konsumen, terutama mereka yang memiliki riwayat penyakit asam lambung atau GERD. Pemilihan Nicholas Saputra sebagai duta merek bukan tanpa alasan. Direktur Marketing Sido Muncul, Maria Reviani, menjelaskan bahwa citra dan integritas Nicholas Saputra dinilai sangat mampu memperkuat kepercayaan publik terhadap produk herbal yang berasal dari Indonesia.
Maria Reviani melanjutkan, Nicholas Saputra dikenal sebagai figur publik yang sangat selektif dalam menerima tawaran kerja sama komersial. Konsistensinya dalam menjaga profesionalisme dan reputasi menjadi nilai tambah yang krusial bagi Sido Muncul. Selain itu, keterlibatan Nicholas Saputra dalam berbagai isu lingkungan hidup juga dianggap sejalan dengan upaya perusahaan dalam membangun narasi merek yang lebih positif dan kredibel di mata konsumen modern yang semakin peduli terhadap nilai-nilai keberlanjutan.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran paradigma dalam pemasaran produk herbal. Dulu, fokus utama mungkin hanya pada efektivitas dan ketersediaan produk. Namun kini, dimensi psikologis konsumen menjadi sangat penting. Kepercayaan, yang merupakan elemen fundamental dalam hubungan konsumen-merek, harus dibangun dan dipelihara secara aktif. Keterlibatan figur publik yang memiliki rekam jejak baik dan disukai masyarakat dapat menjadi jembatan emosional yang efektif.
Dampak dari strategi ini tidak hanya dirasakan oleh produsen besar. Industri herbal secara keseluruhan perlu beradaptasi dengan dinamika pasar yang berubah. Brand awareness yang tinggi melalui endorsement figur publik dapat mendorong konsumen untuk memilih produk yang sudah terasosiasi dengan citra positif. Hal ini, pada gilirannya, dapat meningkatkan volume penjualan dan memperkuat posisi tawar industri herbal Indonesia di kancah domestik maupun internasional.
Pentingnya figur publik dalam membangun kepercayaan konsumen juga terkait erat dengan bagaimana produk herbal dipersepsikan oleh masyarakat. Selama bertahun-tahun, produk herbal telah memiliki stigma tertentu, kadang dianggap kurang ampuh dibandingkan obat-obatan kimia, atau bahkan diragukan keamanannya. Namun, dengan adanya kampanye yang didukung oleh tokoh-tokoh terkemuka, persepsi ini perlahan bisa diubah menjadi pandangan yang lebih positif dan modern.
Selain itu, strategi ini juga menunjukkan bagaimana industri herbal berupaya untuk go international, seperti yang tersirat dalam kampanye Sido Muncul. Dengan menggandeng figur publik yang dikenal luas, produk-produk herbal Indonesia diharapkan dapat memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar global, di mana kepercayaan konsumen terhadap keaslian dan kualitas produk menjadi faktor penentu utama.
Namun, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada pemilihan figur publik yang tepat. Integritas, rekam jejak yang bersih, dan kesesuaian citra figur publik dengan nilai-nilai merek adalah kunci. Jika pemilihan tersebut tidak cermat, justru bisa menimbulkan efek negatif yang merugikan merek. Oleh karena itu, proses seleksi duta merek harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan strategis.
Ke depan, tren penggunaan figur publik dalam industri herbal kemungkinan akan terus berlanjut. Inovasi dalam bentuk kemitraan, seperti kolaborasi dalam menciptakan produk, program tanggung jawab sosial perusahaan, atau konten edukatif bersama, bisa menjadi langkah selanjutnya. Tujuannya adalah menciptakan ikatan yang lebih mendalam antara figur publik, merek herbal, dan konsumen, sehingga tercipta ekosistem kepercayaan yang kuat dan berkelanjutan di tengah tantangan era digital.











