Waduk Saguling, bagian dari kompleks tiga waduk di Jawa Barat yang vital bagi pasokan air dan energi, kini menunjukkan potret yang mengkhawatirkan. Citra udara terbaru memperlihatkan dasar waduk yang luas mengering, menyerupai lanskap gurun akibat dampak cuaca panas dan kering ekstrem yang melanda dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini memaksa otoritas mengambil langkah tegas untuk menghemat sumber daya air yang tersisa.
Menurunnya permukaan air di Waduk Saguling, yang merupakan salah satu dari tiga waduk strategis di aliran Sungai Citarum bersama Waduk Cirata dan Jatiluhur, telah mencapai titik kritis. Berdasarkan pantauan, ketinggian muka air (elevasi) telah turun secara signifikan, menyisakan hamparan lumpur dan bebatuan yang sebelumnya terendam. Fenomena ini bukan hanya visual yang mengejutkan, tetapi juga mengindikasikan ancaman serius terhadap ketersediaan air baku dan operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang bergantung pada pasokan waduk tersebut.
Dampak langsung dari penyusutan masif ini adalah diberlakukannya larangan penggunaan selang air untuk keperluan rumah tangga di wilayah sekitar. Keputusan ini diambil oleh Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta II (Jasa Tirta II) sebagai pengelola, bertujuan untuk memprioritaskan penggunaan air bagi kebutuhan pokok dan operasional vital lainnya. “Kita tidak bisa lagi menggunakan air untuk menyiram tanaman atau mencuci kendaraan dengan selang,” ujar Direktur Utama Jasa Tirta II, Sholahuddin, pada Kamis (24/8/2023), menggarisbawahi urgensi penghematan.
Sholahuddin juga menjelaskan bahwa kondisi kemarau panjang ini telah menyebabkan elevasi air di Waduk Saguling turun hingga mencapai 19,5 meter di bawah normal. Penurunan drastis ini bahkan lebih buruk dibandingkan catatan pada periode kemarau sebelumnya. Ia menambahkan, “Tahun ini lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya.” Situasi ini menuntut kewaspadaan dan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga sisa cadangan air yang ada.
Ancaman kekeringan ini tidak hanya dirasakan di Waduk Saguling. Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur, yang juga berperan penting dalam sistem Sungai Citarum, turut mengalami penurunan muka air. Ketiga waduk ini secara kolektif memiliki peran krusial dalam memenuhi kebutuhan air bersih, irigasi pertanian, dan produksi listrik untuk wilayah Jawa Barat dan sebagian DKI Jakarta. Keadaan darurat air yang terjadi saat ini menjadi pengingat betapa rentannya pasokan sumber daya alam terhadap perubahan iklim dan pola cuaca ekstrem.
