Everton kembali menghadapi tantangan berat di awal musim setelah serangkaian kegagalan di bursa transfer musim panas. Pendekatan yang dinilai amatir dan minim ambisi dari pemilik baru, The Friedkin Group (TFG), menuai kritik tajam, terutama setelah berita kegagalan mendatangkan Folarin Balogun di penghujung bursa transfer.
Situasi ini menempatkan TFG dalam sorotan tajam, sejajar dengan pemilik-pemilik sebelumnya yang dianggap berkontribusi pada paceklik gelar terlama dalam sejarah Everton. Padahal, masa kepemilikan TFG baru berjalan 20 bulan, bertepatan dengan kepindahan klub ke stadion baru yang megah dan pelunasan utang-utang lama. Dibandingkan dengan pendahulunya, Farhad Moshiri, yang setidaknya masih berupaya sebelum menghentikan keran dana, TFG justru dinilai tidak mampu mewujudkan potensi klub.
Meskipun TFG berhasil memulihkan stabilitas finansial Everton pasca kekacauan di tahun-tahun akhir kepemilikan Moshiri dan upaya penjualan kepada 777 Partners, reputasi mereka sebagai “pemenang” – seperti yang diungkapkan CEO klub, Angus Kinnear – telah tercoreng dalam empat hari terakhir. Penilaian ini semakin menguat mengingat pendekatan mereka di bursa transfer musim panas, yang seharusnya menjadi bagian kedua dari pembangunan strategis klub.
Rangkaian kejadian, mulai dari penerimaan tawaran Nottingham Forest sebesar 35 juta poundsterling untuk Harrison Armstrong pada Sabtu pagi, hingga batalnya kepindahan Folarin Balogun dari Monaco senilai 40 juta poundsterling pada Selasa malam, menunjukkan bahwa TFG mungkin tidak mampu atau tidak mau merealisasikan potensi klub. Hal ini tentu mengecewakan para pendukung Everton yang haus akan optimisme.
