Kebakaran dahsyat melanda Desa Adat Sade, Lombok Tengah, pada Kamis (18/4/2024), menyisakan duka mendalam bagi 189 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak langsung. Insiden ini juga memberikan pukulan telak bagi 320 pelaku pariwisata yang menggantungkan hidupnya pada aktivitas di salah satu destinasi budaya paling ikonik di Pulau Seribu Masjid tersebut. Fokus utama saat ini adalah upaya pemulihan kawasan agar denyut aktivitas wisata dapat kembali berdenyut normal.
Peristiwa tragis ini tidak hanya menghanguskan rumah dan harta benda warga, tetapi juga menghentikan sementara roda perekonomian yang bertumpu pada sektor pariwisata di Desa Adat Sade. Ratusan pelaku pariwisata, mulai dari pemandu wisata, seniman Sasak, hingga pedagang souvenir, kini menghadapi ketidakpastian penghidupan akibat terhentinya kunjungan wisatawan.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Jamaluddin Malady, menekankan pentingnya percepatan pemulihan. “Kami sedang berupaya keras agar aktivitas di Desa Adat Sade bisa kembali normal sesegera mungkin. Ini bukan hanya soal pemulihan fisik bangunan, tetapi juga pemulihan ekonomi masyarakat dan kepercayaan wisatawan,” ujar Jamaluddin, Kamis (18/4/2024).
Pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait telah bergerak cepat mengumpulkan data kerugian dan merencanakan langkah-langkah strategis. Bantuan logistik dan kebutuhan pokok mulai disalurkan kepada 189 KK yang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan. Selain itu, pendataan terhadap 320 pelaku pariwisata juga dilakukan untuk merancang program bantuan agar mereka dapat kembali beraktivitas.
Upaya pemulihan tidak hanya berfokus pada bantuan langsung, tetapi juga pada rehabilitasi infrastruktur dan promosi kembali Desa Adat Sade sebagai destinasi wisata yang aman dan menarik. Harapannya, dalam waktu dekat, pengunjung dapat kembali menikmati keindahan budaya dan keramahan masyarakat Sade, sekaligus memberikan dukungan nyata bagi pemulihan pasca-kebakaran.
