Proyek ambisius pembangunan ratusan vila mewah bergaya kastil di Turki, Burj Al Babas, kini terbengkalai total. Proyek yang digadang-gadang bernilai US$200 juta atau setara dengan Rp3 triliun tersebut gagal mencapai tujuannya setelah pengembangnya mengalami kebangkrutan.
Akibatnya, ratusan vila yang belum selesai dibangun kini berdiri kosong, menciptakan pemandangan unik yang menarik perhatian para penjelajah perkotaan atau urban explorer. Keindahan arsitektur kastil yang tak terselesaikan ini justru menjadi daya tarik tersendiri.
Proyek Burj Al Babas, yang berlokasi di Mudurnu, Provinsi Bolu, Turki, awalnya direncanakan sebagai resor mewah yang menargetkan pembeli dari Timur Tengah. Konsepnya adalah membangun sebuah kota mini yang dipenuhi vila-vila bergaya Eropa abad pertengahan, lengkap dengan menara dan detail arsitektur yang mewah.
Namun, mimpi pembangunan ini harus pupus. Pembangunan yang dimulai pada tahun 2014 ini terhenti ketika perusahaan pengembang, Sarot Group, menghadapi masalah finansial yang serius. Laporan menyebutkan bahwa kebangkrutan pengembang menjadi penyebab utama terbengkalainya proyek raksasa ini.
Kini, ratusan vila yang tersebar di area luas itu tampak seperti kota hantu. Bangunan-bangunan yang sebagian telah berdiri kokoh namun tanpa penghuni ini menawarkan pemandangan sureal. Keadaan ini justru mengundang minat para fotografer dan penjelajah yang tertarik dengan keindahan arsitektur yang terbengkalai serta cerita di baliknya.
Meskipun tidak pernah dihuni, vila-vila ini memiliki daya tarik tersendiri. Desainnya yang unik, menyerupai kastil-kastil dongeng, menarik perhatian para pengunjung yang ingin mengabadikan momen di tengah kemegahan yang tak terwujud. Keberadaan Burj Al Babas menjadi pengingat akan risiko proyek properti berskala besar dan bagaimana sebuah visi megah bisa berakhir menjadi monumen kesunyian.
