Sejak zaman kerajaan kuno hingga era peperangan modern, sejarah manusia kerap diwarnai oleh catatan pertumpahan darah. Pertanyaan mendasar pun muncul: benarkah sepanjang eksistensinya, umat manusia tidak pernah benar-benar lepas dari bayang-bayang perang?
Meskipun sulit dibayangkan, para sejarawan dan antropolog meyakini bahwa ada periode dalam sejarah manusia di mana konflik bersenjata berskala besar relatif jarang terjadi, atau bahkan absen sama sekali. Studi terhadap masyarakat pemburu-pengumpul dan kelompok-kelompok adat yang hidup terisolasi menunjukkan bahwa pola kehidupan mereka cenderung lebih damai dibandingkan dengan masyarakat agraris yang mulai membentuk entitas politik lebih besar.
Profesor Douglas Fry, seorang antropolog dari Universitas British Columbia, dalam bukunya yang berjudul ‘The Warless Nations’, menyoroti bahwa perang bukanlah kondisi inheren manusia. Ia berargumen bahwa perang adalah fenomena budaya yang dipelajari dan dipicu oleh faktor-faktor seperti persaingan sumber daya, perebutan kekuasaan, dan struktur sosial yang kompleks. Fry mengidentifikasi beberapa kelompok masyarakat yang, berdasarkan catatan sejarah dan etnografi, nyaris tidak memiliki catatan tentang perang. Salah satunya adalah suku Semai di Semenanjung Malaya, yang dikenal memiliki budaya menolak kekerasan dan menyelesaikan konflik melalui mediasi serta negosiasi.
Lebih lanjut, Fry membandingkan masyarakat tersebut dengan masyarakat yang lebih kompleks dan terorganisir. Ia menemukan korelasi antara meningkatnya kompleksitas sosial, kepemilikan properti pribadi, dan munculnya institusi negara dengan peningkatan frekuensi dan skala perang. Dalam konteks ini, ia mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa masyarakat yang tidak memiliki kepemilikan pribadi yang signifikan dan hidup dalam kelompok-kelompok kecil cenderung tidak mengalami peperangan.
Perlu dicatat bahwa ketiadaan perang berskala besar tidak berarti tidak ada sama sekali konflik antarindividu atau kelompok kecil. Namun, perbedaannya terletak pada skala, organisasi, dan dampak destruktifnya. Sejarah mencatat berbagai bentuk konflik, mulai dari perselisihan antarindividu, pertikaian antarkeluarga, hingga perang antar kerajaan yang melibatkan ribuan hingga jutaan jiwa. Perang modern, dengan teknologi yang semakin canggih, membawa potensi kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Oleh karena itu, meskipun catatan sejarah dipenuhi dengan jejak peperangan, gagasan bahwa manusia selalu hidup dalam konflik bersenjata berskala besar mungkin perlu ditinjau kembali. Keberadaan masyarakat yang hidup damai di masa lalu memberikan perspektif penting bahwa perdamaian, meskipun sulit dicapai secara universal, bukanlah sesuatu yang mustahil bagi umat manusia.
