Indonesia diprediksi memiliki potensi sumber daya panas bumi terbesar di dunia, namun pengembangan energi bersih ini masih menghadapi berbagai hambatan signifikan, terutama terkait investasi dan tahap eksplorasi. Kondisi ini menjadi ironi mengingat kebutuhan energi nasional yang terus meningkat dan urgensi transisi menuju sumber energi terbarukan.
Sebagaimana diungkapkan oleh Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Muhammad Wafid, Indonesia memiliki potensi panas bumi sebesar 23,8 gigawatt (GW). Angka ini menempatkan Indonesia di posisi teratas secara global. Namun, realisasi pemanfaatan energi panas bumi baru mencapai sekitar 2,3 GW. Jarak yang lebar antara potensi dan realisasi ini mengindikasikan adanya masalah mendasar yang perlu segera diatasi.
Salah satu tantangan utama yang disorot adalah minimnya minat investor, khususnya pada tahap awal eksplorasi. Tahap ini membutuhkan biaya yang sangat besar dan risiko yang tinggi. “Investasi di hulu panas bumi itu risikonya sangat besar, biayanya juga sangat besar. Ini yang membuat investor agak sedikit enggan,” ujar Wafid dalam sebuah diskusi yang diadakan oleh Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) pada 24 Januari 2024.
Untuk mengatasi kendala ini, berbagai solusi tengah diupayakan oleh pemerintah. Kementerian ESDM berupaya mendorong investor melalui berbagai insentif dan skema pendanaan yang lebih menarik. Selain itu, peran badan usaha milik negara (BUMN) juga diharapkan dapat menjadi pionir dalam melakukan eksplorasi di wilayah-wilayah yang dianggap memiliki potensi tinggi namun berisiko bagi investor swasta.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiyani Dewi, menjelaskan bahwa salah satu strategi yang sedang digalakkan adalah pemanfaatan dana hibah atau pinjaman lunak untuk mengurangi beban risiko bagi investor. “Kita juga lagi coba untuk menggunakan skema pendanaan yang ada, baik melalui hibah atau pinjaman yang bunganya rendah, atau APBN/APBD untuk mengurangi risiko di eksplorasi,” ungkap Eniya.
Lebih lanjut, dibutuhkan pula percepatan perizinan dan penyederhanaan regulasi untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi juga menjadi kunci dalam memetakan potensi panas bumi secara lebih akurat dan mengembangkan teknologi yang efisien untuk pemanfaatannya. Dengan langkah-langkah strategis ini, diharapkan potensi panas bumi Indonesia yang melimpah dapat benar-benar terwujud menjadi sumber energi bersih yang signifikan bagi masa depan bangsa.
