HIPPI Soroti Kesenjangan Ekonomi di Balik Ramainya Destinasi Wisata Indonesia

Yohanes

Jakarta – Pemulihan sektor pariwisata Indonesia pasca-pandemi mulai menunjukkan geliat positif dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan. Namun, di balik angka statistik yang menjanjikan, Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) menyoroti adanya tantangan baru yang perlu diatasi, yaitu kesenjangan manfaat ekonomi yang dirasakan oleh pelaku usaha lokal. Peningkatan keramaian di destinasi wisata dinilai belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pertumbuhan pendapatan yang merata bagi masyarakat akar rumput.

Rizanto Binol, Pengurus HIPPI Bidang Pariwisata dan Budaya, mengungkapkan keprihatinannya atas fenomena paradoks ini. Ia mencatat bahwa banyak destinasi kini kembali ramai dikunjungi wisatawan, namun pengeluaran wisatawan tersebut belum optimal berputar di dalam ekosistem ekonomi lokal. "Pengunjung ada, tetapi pengeluaran tidak. Pertumbuhan tanpa keseimbangan hanya akan menimbulkan tekanan di bagian bawah. Situasi ini memperlihatkan adanya paradoks. Destinasi ramai, tetapi tidak semua pelaku usaha memperoleh dampak ekonomi yang sepadan," ujar Rizanto dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (20/6/2026).

Perubahan pola konsumsi wisatawan menjadi salah satu faktor penyebab kesenjangan ini. Wisatawan masa kini cenderung lebih selektif dalam mengalokasikan anggaran liburan mereka. Mereka lebih mengutamakan pengalaman yang ringkas, berdurasi pendek, serta memilih aktivitas yang menawarkan biaya lebih terjangkau. Tren ini, meski menguntungkan dari sisi jumlah kunjungan, berpotensi mengurangi pengeluaran rata-rata per wisatawan, yang pada akhirnya berdampak pada perputaran uang di tingkat pelaku usaha lokal.

Menyikapi kondisi tersebut, HIPPI mendesak agar pengembangan sektor pariwisata tidak hanya terpaku pada kuantitas kunjungan wisatawan semata. Fokus utama harus digeser pada penguatan nilai ekonomi yang mampu dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha di daerah tujuan wisata. Pengukuran keberhasilan pariwisata seharusnya tidak hanya diukur dari statistik jumlah pengunjung, melainkan juga dari seberapa besar manfaat ekonomi yang berhasil dipertahankan di daerah, berkontribusi pada penguatan usaha lokal, serta melestarikan budaya setempat.

"Pariwisata Indonesia tidak boleh hanya ramai secara statistik, tetapi harus kuat secara ekosistem. Ukuran keberhasilannya adalah berapa besar manfaat yang tinggal di daerah, dirasakan pelaku usaha lokal, dan memperkuat budaya serta ekonomi masyarakat," tegas Rizanto.

Untuk mewujudkan pariwisata yang lebih inklusif dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas, HIPPI mengidentifikasi beberapa strategi penguatan. Peningkatan kapasitas dan daya saing pelaku usaha lokal menjadi kunci utama. Melalui pelatihan, pendampingan, dan akses permodalan yang lebih baik, diharapkan pelaku usaha lokal mampu bersaing dan menangkap peluang yang tercipta dari lonjakan kunjungan wisatawan.

Selain itu, HIPPI menyarankan pengembangan paket wisata tematik yang lebih menarik dan sesuai dengan minat pasar. Kurasi produk kriya unggulan daerah serta integrasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner ke dalam rantai pasok pariwisata juga dinilai efektif untuk mendorong wisatawan agar menghabiskan lebih banyak waktu dan uang di destinasi. Paket-paket ini tidak hanya memperkaya pengalaman wisatawan, tetapi juga menciptakan multiplier effect yang signifikan bagi ekonomi lokal.

Peran serta aktif masyarakat lokal, mulai dari pemandu wisata, perajin, seniman, hingga komunitas adat, juga sangat krusial. Keterlibatan mereka tidak hanya memperkaya otentisitas destinasi wisata, tetapi juga memastikan bahwa manfaat ekonomi dari pariwisata dapat terdistribusi secara lebih adil. Kolaborasi antara pelaku usaha pariwisata besar dan komunitas lokal perlu terus diperkuat untuk menciptakan sinergi yang harmonis.

Di era digital ini, transformasi digital bagi UMKM pariwisata menjadi agenda penting yang tidak bisa ditunda. Penguatan ini mencakup tidak hanya aspek promosi daring, tetapi juga perbaikan sistem pengelolaan usaha, manajemen reputasi digital di platform-platform pariwisata, serta penyediaan sistem pembayaran yang mudah diakses oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Digitalisasi diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi UMKM.

Rizanto juga menekankan potensi besar kekayaan budaya lokal sebagai diferensiator utama daya saing destinasi wisata Indonesia di kancah global. Budaya yang otentik dan unik menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda. Menjaga dan mempromosikan keunikan budaya ini akan menjadi aset berharga dalam menarik pasar pariwisata yang lebih berkualitas.

"Pariwisata yang sehat bukan hanya pariwisata yang ramai, tetapi pariwisata yang menghidupkan usaha kecil, budaya, lapangan kerja, dan harapan masyarakat. Pembangunan pariwisata harus semakin berani bergeser dari pendekatan promosi menuju pendekatan ekosistem," pungkas Rizanto. Pergeseran pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem pariwisata yang lebih berkelanjutan, tangguh, dan memberikan manfaat maksimal bagi seluruh pemangku kepentingan, terutama masyarakat lokal.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All