Friday, 17 July 2026
BREAKING
SEPAKBOLA

Harapan Inggris di Piala Dunia: Antara Realitas dan Inspirasi

Oleh Herfansyah July 17, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Harapan tim nasional Inggris untuk melaju ke final Piala Dunia tampaknya hanya bertahan singkat, sekitar dua menit dan 55 detik saja. Namun, penulis Max Rushden berpendapat bahwa harapan, sekecil apapun, tetap memberikan energi positif yang memperkaya kehidupan.

Dalam bukunya yang berjudul Hope in the Dark, Rebecca Solnit mengupas kemungkinan adanya harapan di tengah realitas penderitaan manusia. Ia mengutip perkataan penulis Bulgaria, Maria Popova, yang menyatakan, “Berpikir kritis tanpa harapan adalah sinisme, tetapi harapan tanpa berpikir kritis adalah kepolosan.” Argumen ini, menurut Solnit, sangat relevan dalam memandang harapan sebagai pemicu perubahan sosial.

Fenomena harapan yang berujung kekecewaan juga diungkapkan oleh Graham Burrell. Ia menulis, “Harapanlah yang membunuhmu” setelah Lincoln City mengalami kekalahan kandang 2-1 dari Wigan pada tahun 2024. Burrell merasa bahwa harapan timnya untuk melaju ke babak playoff akhirnya pupus akibat kekalahan tersebut.

Kutipan-kutipan ini menyoroti dualitas harapan: ia bisa menjadi sumber kekuatan dan motivasi, namun juga bisa menimbulkan rasa sakit ketika tidak terwujud. Dalam konteks sepak bola, khususnya perjalanan Inggris di Piala Dunia, harapan yang sempat menyala kemudian padam mengajarkan sebuah pelajaran berharga tentang optimisme yang realistis.

Meski demikian, pengalaman merasakan harapan, walau singkat, tetaplah sebuah pengalaman yang hidup. Ia memberikan warna dan tujuan, bahkan ketika hasil akhirnya tidak sesuai dengan impian. Perjuangan Inggris, dengan segala pasang surutnya, bisa menjadi refleksi bahwa proses dan semangat juang itu sendiri memiliki nilai yang tak ternilai.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait