Presiden FIFA, Gianni Infantino, telah mengukuhkan posisinya di puncak organisasi sepak bola dunia selama satu dekade terakhir. Perjalanannya diwarnai berbagai perselisihan dengan serikat pekerja dan otoritas sepak bola Eropa, namun Infantino tetap memegang kendali kekuasaan yang signifikan.
Kontroversi seringkali mengikuti langkah Infantino. Salah satu momen yang cukup disorot adalah ketika ia membela keputusan FIFA yang tidak mengutuk tindakan Rusia di Ukraina, sebuah sikap yang memicu kritik keras dari berbagai pihak. Ia berdalih bahwa FIFA harus tetap netral dalam urusan politik global, sebuah argumen yang dinilai sebagian kalangan sebagai upaya untuk menghindari konfrontasi dan menjaga stabilitas organisasi.
Selama masa kepemimpinannya, Infantino juga menunjukkan kedekatan yang tidak biasa dengan tokoh-tokoh politik kontroversial, termasuk mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pertemuan dan interaksi mereka seringkali menjadi sorotan publik, menimbulkan pertanyaan tentang independensi FIFA dan potensi pengaruh politik dalam pengambilan keputusan organisasi.
Hubungan Infantino dengan sepak bola Eropa juga tidak selalu mulus. Ia kerap bersitegang dengan federasi-federasi sepak bola Eropa, terutama terkait dengan reformasi kalender pertandingan dan proposal kompetisi baru. Kekuatan finansial FIFA yang besar menjadi alat tawar yang kuat dalam negosiasi ini, memungkinkan Infantino untuk terus mendorong agendanya meskipun mendapat tentangan.
Salah satu pencapaian yang patut dicatat adalah keberhasilan Infantino dalam meningkatkan pendapatan FIFA secara signifikan. Di bawah kepemimpinannya, FIFA berhasil mengamankan kesepakatan sponsor yang menguntungkan dan meningkatkan nilai hak siar televisi. Peningkatan pendapatan ini seringkali digunakan sebagai justifikasi atas berbagai keputusan kontroversial yang diambilnya, termasuk perluasan Piala Dunia.
Meski menghadapi berbagai tantangan dan kritik, Gianni Infantino berhasil mempertahankan posisinya sebagai pemimpin FIFA. Pengalamannya selama 10 tahun terakhir menunjukkan kemampuannya dalam menavigasi kompleksitas politik sepak bola global, membangun aliansi strategis, dan mempertahankan kendali atas organisasi yang dipimpinnya.
