Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) mengusulkan rencana ambisius untuk meningkatkan pendanaan bagi 211 asosiasi anggota melalui penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta. Proposal ini bertujuan untuk mendongkrak pengembangan sepak bola di seluruh dunia, meskipun sejarah menunjukkan bahwa pengelolaan dana FIFA di beberapa wilayah belum sepenuhnya optimal.
Rencana ini memicu beragam reaksi dari konfederasi regional. UEFA menyatakan kemarahan, sementara Concacaf menyuarakan keprihatinan. Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) mengungkapkan kekecewaannya atas kurangnya konsultasi dalam penyusunan proposal ini. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF).
Asia dan Afrika diketahui sebagai basis dukungan kuat bagi Presiden FIFA, Gianni Infantino. Dukungan ini sangat krusial bagi Infantino, terutama mengingat potensi isu-isu yang mungkin timbul. Meskipun pernah ada desas-desus mengenai kedekatan Infantino dengan Donald Trump, khususnya terkait kasus Folarin Balogun saat Piala Dunia, suntikan dana tambahan ini diharapkan dapat meredam potensi suara-suara kritis yang mungkin muncul dari Kuala Lumpur maupun Kairo.
Kekhawatiran mengenai pengelolaan dana FIFA bukanlah hal baru. Laporan menunjukkan bahwa di masa lalu, miliaran dana yang dialokasikan untuk pengembangan sepak bola di beberapa wilayah justru hilang atau tidak digunakan sesuai peruntukannya. FIFA seringkali dianggap lambat dalam mengambil tindakan pencegahan, hanya bertindak setelah dana tersebut telah disalahgunakan.
Proposal penjualan saham Piala Dunia ini mencerminkan upaya FIFA untuk mencari sumber pendanaan baru. Namun, efektivitasnya dalam memastikan investasi yang tepat sasaran dan transparan di tingkat asosiasi anggota masih menjadi pertanyaan besar yang perlu dijawab.
