Genetik Ungkap Rahasia: Mengapa Orang Korea Jarang Mengalami Bau Badan

Heni Maulidya

Fenomena orang Korea yang cenderung minim bau badan, terutama saat cuaca panas, ternyata bukan sekadar persepsi belaka. Sebuah penjelasan ilmiah mengungkap bahwa faktor genetik memainkan peran kunci dalam hal ini, membedakan mereka dari populasi lain di dunia dalam hal respons biologis terhadap keringat. Penemuan ini memberikan wawasan menarik tentang bagaimana warisan genetik dapat memengaruhi karakteristik fisik sehari-hari.

Penelitian ilmiah mengindikasikan bahwa mayoritas penduduk Asia Timur, termasuk warga Korea, memiliki mutasi pada gen yang dikenal sebagai ABCC11. Mutasi genetik ini secara signifikan mengurangi produksi senyawa yang menjadi sumber utama bau badan. Akibatnya, tubuh mereka tidak menghasilkan aroma asam yang sama kuatnya ketika berkeringat dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki mutasi tersebut. Fenomena ini menjelaskan mengapa penggunaan deodoran, yang umum di banyak budaya, mungkin tidak sepenting atau seumum di Korea.

Lebih spesifik lagi, studi yang diterbitkan oleh The Korean Times, mengutip penelitian dari University of Bristol, menemukan bahwa hanya sekitar 0,006 persen populasi Korea yang memiliki gen ABCC11 dalam bentuk normal. Angka ini termasuk yang terendah di dunia. Ian Day, seorang epidemiolog genetika dari University of Bristol, menegaskan bahwa gen ABCC11 berperan sebagai penentu utama apakah seseorang akan menghasilkan bau ketiak atau tidak. Perbandingan dengan populasi lain menunjukkan perbedaan yang mencolok, di mana hanya sekitar 2 persen orang Eropa yang tidak memiliki gen ini, sementara mayoritas Asia Timur dan hampir seluruh orang Korea tidak memilikinya.

Mekanisme di balik fenomena ini terkait erat dengan fungsi kelenjar keringat apokrin, yang berlokasi di area seperti ketiak dan selangkangan. Kelenjar ini bertanggung jawab mengeluarkan keringat yang mengandung lipid atau lemak. Pada individu tanpa mutasi ABCC11, protein dalam kelenjar apokrin memfasilitasi pelepasan lipid ke dalam keringat. Bakteri yang hidup di permukaan kulit kemudian memecah lipid ini, menghasilkan senyawa yang menimbulkan bau khas.

Namun, pada orang dengan mutasi gen ABCC11, jalur ini terganggu. Dokter kulit Madalyn Nguyen menjelaskan bahwa transporter protein yang seharusnya memindahkan lipid tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Akibatnya, lipid yang masuk ke dalam keringat menjadi lebih sedikit, sehingga bakteri memiliki lebih sedikit bahan untuk dipecah dan mengurangi produksi bau badan. Menariknya, mutasi genetik ini juga memengaruhi komposisi kotoran telinga, membuatnya lebih kering dan tidak lengket pada individu yang terdampak.

Meskipun mutasi genetik ini memberikan keuntungan biologis dalam hal mengurangi bau badan, Nguyen menekankan bahwa hal ini bukan berarti kebersihan pribadi dapat diabaikan. Kelenjar apokrin tetap aktif dan dapat dipicu oleh senyawa seperti katekolamin, yang dilepaskan saat seseorang mengalami stres. Oleh karena itu, mandi secara teratur tetap penting untuk menjaga kebersihan tubuh secara keseluruhan.

Bagi individu yang tetap ingin meminimalkan potensi bau badan, Nguyen menyarankan beberapa strategi. Penggunaan sabun yang mengandung benzoil peroksida di area ketiak bisa menjadi pilihan efektif. Cara penggunaannya adalah dengan membiarkan sabun bekerja selama satu atau dua menit sebelum dibilas, guna mengurangi bakteri permukaan yang berperan dalam pembentukan bau. Ia juga menyarankan antiperspiran yang dioleskan pada malam hari ke ketiak yang kering, karena bahan aktifnya dapat terserap ke dalam kelenjar keringat dan membantu mengontrol produksi keringat. Deodoran, menurutnya, lebih berfungsi sebagai penambah aroma parfum daripada solusi untuk mengatasi bau badan.

Meskipun mutasi gen ABCC11 sangat umum di Asia Timur, terutama Korea, alasan pasti di balik prevalensinya yang tinggi masih menjadi subjek penelitian lebih lanjut. Beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa faktor geografis dan evolusi mungkin berperan. Sama seperti manusia di wilayah dingin cenderung mengembangkan kulit lebih terang dan mereka yang tinggal di dekat khatulistiwa memiliki lebih banyak melanin untuk perlindungan dari sinar matahari, faktor lingkungan di masa lalu mungkin telah mendorong evolusi genetik yang memengaruhi produksi bau badan.

Dengan demikian, alasan mengapa orang Korea jarang mengalami bau badan yang mengganggu adalah fenomena biologis yang kompleks, berakar pada warisan genetik mereka. Bagi individu yang tidak memiliki mutasi genetik ini, menjaga kebersihan tubuh yang baik dan menerapkan praktik perawatan pribadi yang tepat tetap menjadi kunci untuk merasa nyaman dan percaya diri, terutama di tengah cuaca yang hangat. Pemahaman ilmiah ini tidak hanya memberikan jawaban atas pertanyaan umum, tetapi juga membuka diskusi lebih lanjut tentang keragaman biologis manusia.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All