Korban jiwa akibat gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah. Hingga kini, tercatat 71 orang meninggal dunia. Bencana alam ini juga memaksa puluhan ribu warga mengungsi dari kediaman mereka.
Data terbaru menyebutkan bahwa sebanyak 59.647 warga terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mencari tempat aman untuk berlindung. Angka pengungsi yang terus bertambah ini menunjukkan skala dampak gempa yang sangat luas, tidak hanya merenggut nyawa tetapi juga menghancurkan tempat tinggal.
Pemerintah dan berbagai lembaga kemanusiaan telah bergerak cepat untuk memberikan bantuan kepada para korban. Upaya penyelamatan dan evakuasi masih terus dilakukan di beberapa wilayah yang terdampak paling parah. Prioritas utama saat ini adalah memastikan keselamatan warga, menyediakan tempat berlindung sementara, serta memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Gempa yang berpusat di laut Flores dengan kedalaman 10 kilometer ini tidak hanya dirasakan di NTT, tetapi juga meluas ke beberapa provinsi lain. Getarannya dilaporkan terasa hingga ke Sulawesi Selatan, Bali, dan Jawa Timur. Namun, dampak terparah terjadi di wilayah NTT, yang menyebabkan kerusakan bangunan signifikan dan jatuhnya korban jiwa.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto dalam keterangan persnya menyatakan, “Kita terus berupaya melakukan pendataan dan penanganan korban. Prioritas kami adalah penanganan pengungsi dan pemulihan sarana prasarana yang rusak.” Beliau juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan tsunami, meskipun peringatan tsunami telah dicabut.
Kerugian materiil akibat gempa ini diperkirakan sangat besar. Banyak rumah warga, fasilitas umum seperti sekolah dan rumah sakit, serta infrastruktur lainnya yang mengalami kerusakan. Proses pendataan kerusakan dan estimasi kerugian masih terus dilakukan oleh tim di lapangan.
