Inggris dan Wales, bersama Finlandia, menjadi anggota UEFA pertama yang mencabut dukungan mereka untuk pemilihan FIFA tahun depan. Keputusan ini menandai kemunduran signifikan bagi Gianni Infantino, Presiden FIFA saat ini, dan memicu gelombang diskusi mengenai masa depan kepemimpinan badan sepak bola dunia tersebut.
Langkah Federasi Sepak Bola Inggris (The FA) dan Asosiasi Sepak Bola Wales (FAW) didasari oleh kekecewaan terhadap arah kebijakan FIFA yang dinilai stagnan. Mereka adalah anggota pertama dari 55 negara anggota UEFA yang secara resmi menarik surat dukungan mereka untuk pemilihan yang akan datang. Keputusan ini mencerminkan ketidakpuasan yang meluas terhadap kepemimpinan Infantino.
Di tengah dinamika ini, muncul pula refleksi mendalam tentang nilai-nilai sepak bola. Nick Kinsella mengenang sosok legendaris Franco Baresi, menyoroti keteladanan sang kapten tidak hanya di lapangan tetapi juga dalam kepribadiannya. Kinsella mengisahkan bagaimana Baresi pernah meyakinkan pelatih Arrigo Sacchi untuk meningkatkan intensitas latihan meskipun para pemain sudah lelah, demi kebaikan tim. Momen lain yang disorot adalah refleksi Baresi pasca kekalahan Italia di final Piala Dunia 1994, di mana ia justru melihatnya sebagai mimpi yang terwujud, sebuah kesempatan bermain di laga yang sama dengan para idolanya dari final 1970.
Russell Richardson memberikan pandangan satir tentang potensi kepemimpinan Infantino, menyarankan sebuah ‘kesempatan penjualan besar’ dengan memasukkan klub-klub dari liga yang kurang menguntungkan ke dalam format Piala Dunia yang dirombak. Richardson membayangkan sebuah skenario dramatis di final Piala Dunia 2038, di mana tim-tim kuda hitam seperti East Fife dan Forfar berhadapan, menciptakan judul berita yang unik: “Fifa Forward Final fiasco … East Fife 4, Forfar 5”.
Sementara itu, komentar Derrick Cameron tentang seragam baru Newcastle United yang menyerupai ‘kode batang’ mengingatkannya pada seragam West Bromwich Albion di musim 2020-21. Menariknya, West Bromwich Albion terdegradasi di akhir musim tersebut, sebuah fakta yang membuat Cameron bertanya-tanya apakah Newcastle harus khawatir akan menjadi pertanda buruk.
