Manchester United wanita kini menghadapi tantangan baru setelah kepergian pelatih kepala Marc Skinner. Keputusan ini diambilnya kurang dari lima bulan setelah tim tersingkir dari Liga Champions Wanita oleh Bayern Munich pada April lalu. Pernyataan Skinner pasca kekalahan tersebut, “Jika kita ingin bersaing di tahap akhir ini, kita telah melihat apa yang harus kita lakukan, sebagai sebuah klub. Ini pilihan kita sekarang, bukan? Kita harus melihat apa yang benar-benar ingin kita capai… Terkadang, butuh pukulan untuk bangun,” kini terasa relevan.
Skinner, yang memimpin tim dengan anggaran terbatas, memang kerap membelah opini publik. Namun, ia berhasil memaksimalkan sumber daya yang ada. Kini, penerusnya harus siap bekerja dengan talenta muda, bukan mengandalkan pembelian pemain bintang besar. Situasi ini muncul di tengah indikasi bahwa ambisi klub dalam bursa transfer tampaknya meredup.
Selama masa kepelatihannya, Manchester United wanita tidak mampu bersaing dengan klub-klub besar Eropa yang memiliki kekuatan finansial jauh di atas mereka. Anggaran yang “tipis” membuat Skinner sulit untuk mendatangkan pemain-pemain berlabel bintang yang bisa langsung mengangkat performa tim ke level elite. Ia harus cerdik dalam memanfaatkan pemain yang ada dan mengembangkan potensi para pemain muda.
Keputusan Skinner untuk tidak melanjutkan kontraknya ini membuka babak baru bagi Manchester United wanita. Klub kini harus segera mencari sosok pengganti yang tepat, yang mampu melanjutkan warisan Skinner dalam hal pengembangan pemain muda, sekaligus memiliki visi yang jelas untuk meningkatkan daya saing tim di kancah domestik maupun Eropa, dengan segala keterbatasan yang ada.
