Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan meluncurkan lava fountain pada Sabtu, 11 Mei 2024. Erupsi yang disertai gemuruh ini memicu kekhawatiran masyarakat di beberapa wilayah. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini tengah menyelidiki kemungkinan adanya kaitan antara fenomena tersebut dengan dentuman keras yang terdengar di Jawa Barat, Banten, dan Lampung.
Menurut Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, erupsi Anak Krakatau pada 11 Mei 2024 terjadi sekitar pukul 00:48 WIB. Kolom abu vulkanik membumbung setinggi 1.000 meter di atas puncak kawah. “Terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada tanggal 11 Mei 2024 pukul 00:48 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 1.000 m di atas puncak kawah,” jelas Wafid dalam keterangan tertulisnya.
Fenomena lava fountain ini merupakan salah satu bentuk erupsi eksplosif yang mengeluarkan material pijar dari kawah. Intensitas erupsi ini cukup signifikan, terbukti dengan terdengarnya gemuruh yang cukup kuat. Kejadian ini secara otomatis menaikkan status kewaspadaan terhadap aktivitas gunung berapi yang terletak di Selat Sunda tersebut.
Lebih lanjut, Wafid mengungkapkan bahwa pihaknya menduga kuat ada korelasi antara erupsi yang terjadi dengan dentuman misterius yang dilaporkan oleh warga di tiga provinsi. Dentuman tersebut dilaporkan terdengar pada pagi hari di beberapa wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung. “Namun demikian, kami masih melakukan pendalaman lebih lanjut untuk memastikan kaitan antara erupsi Anak Krakatau dengan dentuman yang dilaporkan masyarakat,” ujar Wafid.
Hingga berita ini diturunkan, status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat dihimbau untuk selalu mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi. Rekomendasi tersebut meliputi larangan mendaki atau beraktivitas di sekitar gunung dalam radius tertentu untuk mengantisipasi potensi bahaya susulan.
