Friday, 10 July 2026
BREAKING
DUNIA

Debu dan Harapan di La Guaira: Jerit Hening Pencarian Korban Gempa Venezuela

Oleh Yohanes June 30, 2026 1 week lalu 0 komentar

Di tengah tumpukan puing beton, besi, dan debu yang tak stabil, puluhan relawan bekerja tanpa lelah, menyingkirkan reruntuhan dengan satu harapan: menemukan korban selamat atau jenazah. Suasana tegang menyelimuti Kompleks Mariola dan Maribel di La Guaira, Venezuela, pasca serangkaian gempa bumi dahsyat yang meluluhlantakkan wilayah pesisir. Keheningan yang tiba-tiba pecah oleh teriakan penuh semangat menandakan adanya potensi kehidupan di bawah timbunan. "Ya Tuhan, terima kasih," seru seorang wanita, sementara yang lain bertanya penuh ketidakpercayaan, "Benarkah?"

Harapan yang sempat membuncah itu segera menyebar di antara warga yang berkumpul di dekat reruntuhan. Sebelum gempa melanda pada Rabu lalu, area yang kini menjadi lokasi pencarian ini dipenuhi aktivitas warga yang menikmati teriknya matahari di tepi pantai. Dari dua menara apartemen yang berdiri megah, kini hanya satu yang masih tegak berdiri, meski miring berbahaya dan mengancam roboh kapan saja. Menara lainnya seolah ditelan bumi, lenyap ditelan puing-puing.

Menanggapi potensi penemuan korban, para relawan segera berlari ke jalan, memberi isyarat agar semua aktivitas dihentikan. Mesin kendaraan dimatikan, derek berhenti beroperasi, dan suara bor mendadak senyap. Perlahan, kebisingan mereda, digantikan oleh keheningan yang mendalam. Para penyelamat memanjat tumpukan reruntuhan, berlutut, dan menundukkan kepala. "Tolong, biarkan kami mendengar. Jangan bersuara! Sepertinya ada seseorang di sini," seru salah seorang dari atas tumpukan puing. Pesan untuk menjaga keheningan bergema, diteruskan dari satu orang ke orang lain, menciptakan suasana khusyuk yang penuh harap.

Warga yang hadir menahan napas, satu-satunya cara mereka bisa berkontribusi dalam momen krusial ini. Harapan untuk menyelamatkan korban selamat sempat membumbung tinggi, terutama setelah pada hari Sabtu sebelumnya, 33 orang berhasil ditemukan dalam keadaan hidup. Namun, optimisme perlahan memudar seiring berjalannya waktu. "Katakan sesuatu agar kami bisa mendengarmu, tolong," teriak seseorang penuh keputusasaan ke arah bawah reruntuhan. "Kami tim penyelamat!" kata-kata itulah yang sesekali memecah keheningan yang hampir terasa sakral itu.

Selama sepuluh menit, waktu seolah berhenti. Namun, tak ada suara yang terdengar dari balik beton yang runtuh. Para profesional menyatakan bahwa itu hanyalah alarm palsu. Wajah-wajah yang tadinya penuh harapan kini berubah drastis, dipenuhi kekecewaan. Tetangga yang melihat kejadian tersebut segera menghubungi tim penyelamat profesional. Mereka tiba dalam hitungan menit, namun tak lama kemudian harus kembali pergi tanpa hasil.

Namun, semangat Ronnie Navarro tak surut. Ia datang dari Puerto La Cruz, yang berjarak sekitar 350 kilometer dari La Guaira, dengan misi pribadi untuk mencari pamannya yang tertimbun. Terlihat kelelahan, Ronnie mengamati rekan-rekannya yang masih terus menyingkirkan puing. "Ada jenazah di sana, terjebak. Kerabat korban ikut membantu karena pemerintah tidak mau membantu," keluhnya. Ia menambahkan bahwa pihak berwenang terkesan acuh tak acuh, hanya datang sebentar lalu pergi tanpa memberikan bantuan berarti. Hingga kini, belum ada kabar mengenai pamannya. Suaranya bergetar saat mengatakan, "Mereka belum mengeluarkannya."

Harapan yang sempat terbit dengan cepat berganti menjadi frustrasi. Di La Guaira, dan berbagai wilayah terdampak lainnya, frustrasi ini mulai berujung pada kemarahan. Zuly MarΓ­n, seorang ahli biologi berusia 66 tahun yang telah tinggal di Kompleks Mariola dan Maribel lebih dari satu dekade, selamat dari bencana karena kebetulan. Ia sedang berbelanja saat gempa terjadi dan memutuskan untuk mengunjungi ayahnya sebelum pulang ke rumah. Keputusan sederhana itu menyelamatkan nyawanya, namun ia harus kehilangan keponakan dan iparnya. "Ada keterlambatan dalam proses penyelamatan. Saya pikir jika [pihak berwenang] datang lebih cepat, banyak orang bisa diselamatkan," ujarnya.

Tak jauh dari sana, Belkys Valecillo menyaksikan alat berat bekerja di jalan utama dan bangunan-bangunan tetangga. "Kakak saya, keponakan saya, dan kakak ipar saya berada di lantai pertama menara itu, terkubur," katanya dengan nada sedih. Ia mendapat informasi bahwa penggunaan alat berat baru diizinkan setelah upaya pencarian dan penyelamatan dihentikan. "Baru empat hari," ucapnya dengan nada tak percaya. Bangunan tempat tinggal kakaknya di kompleks tetangga, Caribe, hancur total. Meski begitu, tiga keluarga masih berjuang menggali reruntuhan untuk menemukan anggota keluarga mereka. "Mereka sudah menemukan beberapa jenazah, dan masih ada lagi," tambahnya.

Menjelang malam, energi seolah kembali terisi. Di tumpukan puing bekas Kompleks Caribe, aktivitas terlihat lebih cepat. Sebagian orang berlarian di jalan, meminta semua orang untuk diam. Sekelompok perawat datang, semua ingin berkontribusi. Seorang pemuda melaporkan mendengar suara seseorang di dalam reruntuhan. "Air, air! Bawa air untuk para penyelamat!" seru seseorang saat belasan pria bekerja dengan sigap. Namun, lagi-lagi, itu hanya alarm palsu. Sekitar setengah jam kemudian, di kedalaman reruntuhan, dua jenazah tak bergerak akhirnya ditemukan.

Kisah di La Guaira ini menggambarkan perjuangan tanpa henti para relawan dan keluarga korban di tengah keterbatasan dan respons yang dirasa lambat dari pihak berwenang. Gempa bumi yang mengguncang Venezuela ini meninggalkan luka mendalam, tak hanya pada infrastruktur, tetapi juga pada jiwa masyarakat yang berjuang untuk menemukan kembali orang-orang terkasih di antara puing-puing harapan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait