Dana pensiun pegawai negeri sipil Malaysia dilaporkan mengalami kerugian mencapai sekitar 55 juta dolar AS atau setara Rp855 miliar. Kerugian ini timbul akibat dugaan manipulasi laporan keuangan yang dilakukan oleh startup akuakultur asal Indonesia, eFishery.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, membenarkan bahwa institusi dana pensiun negara tersebut menjadi salah satu pihak yang terdampak dari kasus ini. Pernyataan ini disampaikan Anwar Ibrahim pada hari Selasa, 19 Maret 2024, di Istana Negara, Jakarta, setelah melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo.
Anwar Ibrahim menjelaskan, “Kami memiliki beberapa dana pensiun yang berinvestasi di sana. Dan saya diberitahu ada kerugian sekitar 55 juta dolar AS.” Ia menambahkan bahwa investasi tersebut dilakukan oleh dua dana pensiun milik Malaysia.
Lebih lanjut, Anwar Ibrahim menyatakan bahwa pemerintah Malaysia akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kasus ini. Ia juga mengindikasikan bahwa pihak berwenang Malaysia akan berkoordinasi dengan pihak berwenang di Indonesia untuk menindaklanjuti dugaan manipulasi laporan keuangan tersebut. “Kami akan melakukan penyelidikan dan berkoordinasi dengan pihak berwenang di Indonesia,” ujar Anwar Ibrahim.
Kasus ini mencuat setelah adanya laporan mengenai dugaan manipulasi laporan keuangan eFishery. Startup yang bergerak di bidang teknologi akuakultur ini diduga melakukan rekayasa laporan keuangan untuk menarik minat investor. Laporan tersebut mengindikasikan adanya praktik yang tidak transparan dalam pengelolaan keuangan perusahaan.
Pihak eFishery sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait dugaan ini. Namun, kasus ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor, terutama institusi dana pensiun yang memiliki portofolio investasi di startup teknologi. Besarnya nilai kerugian yang dilaporkan menunjukkan skala masalah yang signifikan dan potensi dampak luas terhadap kepercayaan investor pada ekosistem startup.
