Bristol City Women tengah mempersiapkan diri untuk “supercharge growth” atau meningkatkan pertumbuhan secara pesat setelah memisahkan diri dari struktur klub pria. CEO Hannah Buckley memimpin upaya ambisius ini dengan target promosi ke Women’s Super League (WSL) sebagai fokus utama.
Di tengah teriknya matahari Agustus di Ashton Gate yang sunyi menjelang hari media pramusim Bristol City Women, CEO Hannah Buckley duduk di tepi lapangan dengan sorot mata berbinar. Ia mengamati sekelilingnya dengan bangga, terutama saat memandangvenue kelas atas yang bagi seorang profesional dengan latar belakang manajer fasilitas regional serta kepala infrastruktur, keselamatan, dan keberlanjutan, memberikan kepuasan tersendiri.
Setelah lebih dari dua dekade berkarier di dunia sepak bola, delapan tahun di antaranya di Women’s Super League, Buckley kini fokus membangun sesuatu yang berbeda: sebuah klub yang mampu berkembang secara mandiri, terlepas dari naungan klub pria. Ia ditunjuk sebagai CEO tim WSL2 pada Mei lalu dan memulai perannya di bulan Juni, sebuah momen krusial dalam sejarah tim.
Pemindahan kepemilikan oleh Mercury13 tahun lalu menandai perpisahan dengan Bristol Sport group, yang sebelumnya menaungi tim pria Bristol City serta tim rugby union dan basket kota tersebut. Langkah ini membuka jalan bagi Bristol City Women untuk mengukir identitas dan jalannya sendiri di kancah sepak bola wanita profesional.
