Paolo Simoncelli, mantan bos tim yang memiliki pengalaman panjang di dunia balap motor, menyuarakan keprihatinannya mengenai visibilitas kelas Moto2 dan Moto3 yang dinilai semakin menurun. Ia membandingkan situasi ini dengan kapal Titanic yang mulai tenggelam, sebagai peringatan keras agar tidak terjadi polarisasi yang semakin memecah belah paddock MotoGP.
Simoncelli, yang juga ayah dari mendiang Marco Simoncelli, seorang legenda MotoGP, menekankan bahwa dengan semakin terpisahnya kelas-kelas tersebut, potensi untuk kehilangan audiens dan daya tarik menjadi semakin besar. Ia melihat adanya tren yang mengkhawatirkan di mana Moto2 dan Moto3 seolah ‘tertinggal’ di belakang kelas utama, MotoGP, dalam hal perhatian dan popularitas.
Menurut Simoncelli, pemisahan yang semakin kentara ini dapat berakibat fatal. Ia mengibaratkan keadaan tersebut dengan Titanic yang perlahan tenggelam, sebuah metafora yang kuat untuk menggambarkan potensi kehancuran jika tidak ada langkah pencegahan yang diambil. “Kita menuju Titanic, dan kita tidak menyadarinya,” ujar Simoncelli dalam sebuah wawancara.
Lebih lanjut, Simoncelli menyoroti bahwa meskipun Moto2 dan Moto3 seringkali menyajikan balapan yang sangat kompetitif dan penuh drama, hal tersebut tidak serta merta diterjemahkan menjadi peningkatan visibilitas. Ia berpendapat bahwa promosi dan strategi yang diterapkan saat ini belum cukup efektif untuk mengangkat kembali pamor kedua kelas tersebut di mata publik dan sponsor.
Simoncelli juga menggarisbawahi pentingnya menjaga keutuhan paddock. “Kita tidak boleh membuat divisi,” tegasnya. Ia percaya bahwa semua kelas, termasuk MotoGP, Moto2, dan Moto3, memiliki peran penting dalam ekosistem balap motor dan saling membutuhkan untuk keberlanjutan olahraga ini. Mengabaikan salah satu kelas sama saja dengan melemahkan fondasi secara keseluruhan.
Peringatan dari Simoncelli ini diharapkan dapat menjadi bahan renungan bagi para pemangku kepentingan di Dorna Sports, promotor MotoGP, serta tim-tim yang terlibat. Diperlukan strategi yang lebih komprehensif dan terintegrasi untuk memastikan bahwa Moto2 dan Moto3 tidak hanya menjadi ‘panggung’ bagi talenta muda, tetapi juga mampu mempertahankan dan bahkan meningkatkan daya tariknya bagi penggemar dan mitra komersial di masa depan.
