Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menahan suku bunga acuan BI Rate di level yang sama jika The Federal Reserve (The Fed) belum melakukan pemangkasan suku bunga. Hal ini mengindikasikan bahwa kebijakan moneter Indonesia akan tetap berhati-hati dalam menghadapi ketidakpastian global.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Leo Putra, menyatakan bahwa BI akan cenderung mempertahankan BI Rate pada level 6,00% jika The Fed belum menurunkan suku bunganya. “Kita lihat The Fed belum turun, jadi BI juga belum akan turun,” ujar Leo dalam acara “Market Review” yang disiarkan CNBC Indonesia, Kamis (23/5/2024).
Menurut Leo, BI akan menunggu sinyal dari The Fed sebelum mengambil langkah serupa. Sikap hati-hati ini penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD). Jika BI menurunkan suku bunga sebelum The Fed, perbedaan suku bunga yang melebar dapat memicu pelemahan Rupiah.
Leo menambahkan bahwa The Fed sendiri diperkirakan baru akan memangkas suku bunga pada September 2024. Perkiraan ini didasarkan pada data inflasi Amerika Serikat yang masih menunjukkan tren kenaikan. “Kita perkirakan The Fed baru akan memangkas di September,” jelasnya.
Selain itu, Leo juga menyoroti pentingnya melihat perkembangan inflasi di Indonesia. Jika inflasi domestik masih terkendali, BI memiliki ruang untuk mengevaluasi kebijakan suku bunga. Namun, prioritas utama saat ini adalah menjaga stabilitas eksternal yang dipengaruhi oleh kebijakan The Fed.
Perlu diingat, BI telah menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,00% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Oktober 2023. Keputusan ini diambil untuk memperkuat kebijakan nilai tukar Rupiah dari dampak pelemahan ekonomi global yang meningkat, serta untuk merespons kenaikan inflasi.
