Francesco Bagnaia, sang juara dunia dua kali, mengalami nasib nahas di Sirkuit MotorLand Aragon pada Minggu (24/9). Ia gagal menyelesaikan balapan setelah terjatuh dari posisi ketujuh pada lap keenam. Insiden ini memunculkan kekhawatiran baru terkait performa motor Ducati GP26 yang ditungganginya.
Perjuangan Bagnaia di Aragon terhenti akibat masalah fundamental yang dialaminya sejak awal balapan. Ia dilaporkan kesulitan mengendalikan motornya, baik pada bagian depan maupun belakang. “Motor ini tidak mau menikung. Saya mencoba mendorongnya, tetapi saya tidak merasa nyaman sama sekali,” ungkap Bagnaia pasca-balapan, menjelaskan kesulitannya.
Kekhawatiran Bagnaia bukan tanpa alasan. Kegagalannya di Aragon memperpanjang rentetan hasil kurang memuaskan bagi tim pabrikan Ducati, terutama setelah rekan setimnya, Enea Bastianini, juga mengalami nasib serupa di Sirkuit Misano dua pekan sebelumnya. “Ini mengkhawatirkan karena ini adalah sirkuit yang berbeda, dan masalahnya sepertinya sama. Sepertinya kami memiliki masalah serupa yang kami alami di Misano,” ujar Bagnaia dengan nada prihatin.
Lebih lanjut, Bagnaia menguraikan bahwa masalah kontrol motornya terasa sejak sesi latihan bebas. Ia merasa motornya tidak memberikan respons yang diinginkan saat bermanuver di tikungan. “Dari lap pertama, saya tidak bisa membelokkan motornya. Saya tidak memiliki perasaan di roda depan maupun belakang,” keluhnya.
Situasi ini memaksa Bagnaia dan tim Ducati untuk segera melakukan evaluasi mendalam. Ia berharap tim teknis dapat menemukan akar permasalahan dan solusi yang cepat sebelum seri balapan berikutnya. “Kami harus menganalisis ini dengan sangat hati-hati karena kami tidak bisa terus seperti ini. Kami harus menemukan solusi karena ini adalah masalah yang sama yang kami miliki di Misano,” tegas Bagnaia. Kegagalan di Aragon tidak hanya merugikan poin klasemen Bagnaia, tetapi juga menjadi alarm serius bagi dominasi Ducati di MotoGP.
