Jakarta – PT ANTAM (Persero) Tbk terus memantapkan posisinya sebagai pemain kunci dalam transisi energi Indonesia. Melalui hilirisasi industri nikel, perusahaan BUMN ini berambisi menguasai rantai pasok baterai kendaraan listrik (EV) nasional yang diproyeksikan bernilai miliaran dolar.
Indonesia kini berada di garda terdepan dalam agenda energi hijau. Nikel, sebagai bahan baku utama baterai EV, menjadi komoditas strategis yang menjanjikan nilai tambah signifikan. ANTAM melihat peluang besar ini melalui pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi.
Perusahaan plat merah ini menggandeng PT Industri Baterai Indonesia (IBI). Kolaborasi strategis ini juga melibatkan HYD Investment Limited, sebuah konsorsium global yang terdiri dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd., EVE Energy Co., Ltd., dan PT Daaz Bara Lestari Tbk.
Proyek pabrik baterai yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat, telah mencapai progres 90%. Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada akhir Juli 2026. Tahap awal produksi akan memiliki kapasitas 15 GWh.
Jumlah tersebut diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 250.000 unit kendaraan listrik. Investasi awal untuk proyek baterai terintegrasi hulu-hilir ini mencapai US$ 5,9 miliar atau sekitar Rp 96,04 triliun. Nilai kurs yang digunakan adalah Rp 16.278 per dolar AS.
Proyek raksasa ini terbagi dalam enam usaha patungan (Joint Venture/JV). JV satu hingga tiga fokus pada sisi hulu ekosistem baterai. Sementara itu, JV empat hingga enam akan menangani sisi hilir.
Direktur Utama ANTAM, Untung Budiharto, menegaskan komitmen perusahaan. "Kami siap menerima penugasan khusus dari pemerintah," ujarnya. Percepatan program hilirisasi nikel dan pengembangan ekosistem baterai EV nasional menjadi prioritas.
Melalui proyek-proyek strategis ini, ANTAM berupaya meningkatkan nilai tambah produk. Selain itu, perusahaan juga berkontribusi memperkuat kemandirian industri dalam negeri. Posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global juga diharapkan kian kokoh.
Kinerja ANTAM sepanjang 2025 menunjukkan tren positif. Produksi bijih nikel mencapai 16,11 juta wet metric ton (wmt). Angka ini melonjak 62% dibanding tahun sebelumnya. Penjualan bijih nikel pun mencapai 14,58 juta wmt, tumbuh 75%.
Kenaikan permintaan domestik menjadi pendorong utama. Kinerja produksi dan penjualan bijih nikel ANTAM pada 2025 merupakan yang tertinggi dalam satu dekade terakhir. Hal ini terjadi sejak larangan ekspor mineral diberlakukan.
Untuk produk feronikel, ANTAM berhasil menjaga stabilitas operasional. Produksi mencapai 16.064 ton nikel dalam feronikel (TNi). Volume penjualannya tercatat sebesar 10.528 TNi, di tengah dinamika regulasi dalam negeri.











