Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan ancaman baru dalam perang dagang yang semakin memanas dengan Kanada, kali ini mengincar salah satu perusahaan terbesar negara tetangganya, Bombardier. Trump mengindikasikan kemungkinan menghentikan penjualan jet produksi Bombardier di pasar AS, sebuah langkah yang dapat berdampak signifikan pada industri kedirgantaraan kedua negara.
Ancaman ini muncul sebagai respons terhadap sengketa dagang yang telah berlangsung, terutama terkait tuduhan dumping dan subsidi terhadap jet CSeries buatan Bombardier oleh produsen AS, Boeing. Meskipun sengketa ini berpusat pada CSeries, Trump tampaknya memperluas jangkauannya dengan mengancam seluruh lini produk Bombardier yang berpotensi masuk ke pasar Amerika.
Perang dagang ini memuncak setelah Komisi Perdagangan Internasional Amerika Serikat (USITC) merekomendasikan pengenaan tarif impor sebesar 219,63% pada pesawat CSeries yang diimpor ke AS. Keputusan ini diambil setelah Boeing mengajukan keluhan bahwa Bombardier menjual pesawatnya di AS dengan harga yang tidak adil karena mendapatkan subsidi dari pemerintah Kanada.
Meskipun demikian, jet CSeries Bombardier kini telah diakuisisi oleh Airbus, perusahaan kedirgantaraan Eropa. Akuisisi ini terjadi pada Oktober 2017, yang berarti pesawat yang diproduksi di bawah merek CSeries sekarang beroperasi di bawah payung Airbus. Hal ini menambah kompleksitas pada ancaman Trump, karena sengketa awal ditujukan pada Bombardier secara langsung, namun kini melibatkan entitas yang berbeda.
Menteri Luar Negeri Kanada, Chrystia Freeland, telah menyatakan bahwa pemerintah Kanada tidak akan tinggal diam menghadapi tindakan AS yang dianggapnya tidak adil. “Kami sangat kecewa dengan keputusan ini dan kami akan melanjutkan pembelaan kami terhadap perusahaan Kanada,” ujar Freeland dalam sebuah pernyataan. Ia menekankan bahwa tindakan AS bertentangan dengan semangat kerja sama dagang yang seharusnya dijunjung tinggi.
Tindakan Trump ini mempertegas posisinya yang keras dalam negosiasi ulang Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA). Ancaman terhadap Bombardier dapat dilihat sebagai strategi tekanan untuk mendapatkan konsesi dari Kanada dalam berbagai isu perdagangan, termasuk industri otomotif dan pertanian.
Dampak dari ancaman ini belum sepenuhnya terlihat, namun ketidakpastian yang ditimbulkannya dapat mempengaruhi rencana investasi dan produksi perusahaan kedirgantaraan yang memiliki keterkaitan dengan pasar AS dan Kanada. Para analis memperkirakan ketegangan ini akan terus berlanjut seiring dengan berjalannya negosiasi NAFTA dan sengketa perdagangan lainnya.
