Iran memberikan peringatan tegas bahwa mereka siap memperluas jangkauan serangannya ke fasilitas energi milik negara-negara yang menjadi sekutu Amerika Serikat (AS). Ancaman ini muncul sebagai respons langsung terhadap kemungkinan adanya serangan balasan dari AS.
Pernyataan ini disampaikan oleh Komandan Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi, pada hari Minggu, 14 April 2024. Ia menegaskan bahwa tindakan militer Iran terhadap Israel pada Sabtu malam, 13 April 2024, merupakan respons yang proporsional terhadap serangan Israel terhadap konsulat Iran di Damaskus, Suriah, pada 1 April 2024.
Mayor Jenderal Mousavi menjelaskan bahwa serangan Iran ke Israel yang menggunakan ratusan drone dan rudal adalah bentuk hukuman yang “tepat” dan “terbatas”. Ia juga menekankan bahwa operasi tersebut telah direncanakan dengan matang dan sesuai dengan hukum internasional. “Operasi kami adalah hukuman yang tepat atas agresi rezim Zionis terhadap konsulat kami di Damaskus,” ujar Mousavi, merujuk pada Israel.
Lebih lanjut, Mousavi menegaskan bahwa Iran tidak memiliki niat untuk memperluas konflik lebih jauh. Namun, ia memberikan sinyal bahwa jika AS kembali melakukan serangan, maka Iran tidak akan ragu untuk menyerang fasilitas-fasilitas energi di negara-negara sekutu AS. “Jika ada serangan baru dari AS, maka kami akan menyerang ladang minyak milik sekutu-sekutu AS,” tegasnya.
Mayor Jenderal Mousavi juga mengklarifikasi bahwa serangan Iran ke Israel sebelumnya tidak bertujuan untuk menimbulkan korban jiwa. Menurutnya, sasaran utama adalah pusat intelijen dan militer Israel yang dianggap bertanggung jawab atas serangan di Damaskus. “Kami tidak berniat membunuh warga sipil atau menyebabkan kerusakan luas,” katanya.
Peringatan Iran ini datang di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah serangan balasan Iran terhadap Israel. Serangan tersebut merupakan respons langsung atas serangan udara Israel yang menghancurkan gedung konsulat Iran di Damaskus, Suriah, pada 1 April 2024, yang menewaskan tujuh penasihat militer Iran, termasuk Mayor Jenderal Mohammad Reza Zahedi.
