Pemerintah menginstruksikan perguruan tinggi yang berada di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau untuk segera mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke sistem daring. Instruksi ini dikeluarkan menyusul peningkatan aktivitas vulkanik Anak Krakatau yang berpotensi menimbulkan dampak lebih luas.
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menegaskan pentingnya keselamatan mahasiswa dan staf akademik. “Kita harus memastikan bahwa kegiatan akademik tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan mereka yang berada di zona terdampak,” ujar Nadiem dalam sebuah pernyataan tertulis.
Langkah ini diambil berdasarkan rekomendasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). PVMBG melaporkan bahwa Gunung Anak Krakatau telah menunjukkan peningkatan aktivitas sejak awal Mei 2024, dengan beberapa kali erupsi eksplosif yang disertai lontaran abu vulkanik.
Rekomendasi BNPB dan PVMBG secara spesifik mengimbau agar aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan, dihentikan sementara di radius tertentu dari puncak Anak Krakatau. “Berdasarkan data seismik dan observasi visual, kami merekomendasikan agar tidak ada aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah aktif,” jelas Kepala PVMBG, Hendra Gunawan, dalam konferensi pers pada tanggal 10 Mei 2024.
Perguruan tinggi yang berlokasi di pesisir Provinsi Banten dan Lampung, serta pulau-pulau di sekitarnya, menjadi fokus utama imbauan ini. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) di Serang, Banten, misalnya, telah mengumumkan penyesuaian jadwal kuliah. “Kami akan memberlakukan perkuliahan daring mulai tanggal 13 Mei hingga situasi dinyatakan aman oleh pihak berwenang,” kata Rektor Untirta, Fatah Sulaiman, dalam surat edaran yang dikeluarkan pada 11 Mei 2024.
Selain itu, imbauan juga ditujukan kepada Institut Teknologi Sumatera (Itera) di Lampung Selatan. Pihak Itera dilaporkan sedang mempersiapkan infrastruktur pendukung untuk pembelajaran daring guna memastikan kelancaran proses belajar mengajar bagi mahasiswanya yang mungkin terdampak secara langsung maupun tidak langsung oleh erupsi. Keputusan ini diharapkan dapat meminimalkan risiko dan memastikan keberlangsungan pendidikan di tengah situasi kebencanaan.
