Abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau kembali memaksa penutupan sejumlah bandara di Indonesia. Hingga pukul 18.00 WIB, tujuh bandara masih berstatus ditutup, sementara satu bandara telah dinyatakan beroperasi kembali. Keputusan ini diambil oleh AirNav Indonesia untuk memastikan keselamatan penerbangan.
Ketujuh bandara yang masih terdampak oleh sebaran abu vulkanik adalah Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Raden Inten II Lampung, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Bandara Depati Amir Pangkalpinang, Bandara Husein Sastranegara Bandung, dan Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Penutupan ini merupakan perpanjangan dari status sebelumnya, menunjukkan persistensi sebaran abu yang mengancam operasional penerbangan.
Pihak AirNav Indonesia secara aktif memantau perkembangan sebaran abu vulkanik dan dampaknya terhadap ruang udara. Keputusan untuk membuka kembali bandara akan didasarkan pada evaluasi kondisi terkini dan rekomendasi dari otoritas penerbangan terkait. Informasi terkini mengenai status operasional bandara-bandara ini sangat penting bagi para penumpang untuk merencanakan perjalanan mereka.
Sementara itu, Bandara Internasional Kertajati di Majalengka telah kembali beroperasi normal. Keputusan ini menandakan bahwa di beberapa wilayah, kondisi udara telah membaik dan dinilai aman untuk dilalui pesawat. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat sifat dinamis dari aktivitas vulkanik.
Pihak berwenang mengimbau kepada seluruh penumpang dan maskapai penerbangan untuk terus memantau informasi resmi yang dikeluarkan oleh AirNav Indonesia dan otoritas bandara terkait. Situasi ini menyoroti pentingnya sistem peringatan dini dan respons cepat dalam menghadapi bencana alam seperti erupsi gunung berapi yang dapat memengaruhi sektor transportasi udara secara signifikan.
